<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116366193904730371</id><updated>2011-08-17T00:13:28.492+08:00</updated><category term='ArtikelQ'/><category term='pendidikan'/><category term='Tugas Minggu Ini'/><title type='text'>BiologyQ...</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://epta86.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://epta86.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>duniaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14316567180501072898</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnGD1jHT--I/AAAAAAAAAAw/hCXEE8T6k24/S220/428066087_c040af4b77_o%5B1%5D.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116366193904730371.post-121934431087449952</id><published>2009-08-30T11:57:00.003+08:00</published><updated>2009-08-30T12:02:07.110+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair and Share</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF99FF;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kooperatif tipe &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Think Pair and Share (TPS)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Think Pair and Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dan koleganya di Universitas Maryland yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi tidak hanya diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain (Nurhadi, dalam Hartina, 2008: 11). Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain (Lie, 2007: 57).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Frank Lyman dan koleganya (dalam Ibrahim, 2000: 27) menerapkan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TPS sebagai berikut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;a.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Tahap 1: Thinking (berpikir). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;b.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Tahap 2: Pairing (berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;c.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Tahap 3: Sharing (berbagi). Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekita seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Langkah-langkah model pembelajaran tersebut apabila dikaji dengan baik, maka akan memberikan peluang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan menerapkan konsep, keterampilan berkomunikasi, dan keterampilan diskusi mengajukan pertanyaan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah: a) memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan b) siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah, c) siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang, d) siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar, e) memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran (Hartina, 2008: 12). Senada dengan pendapat Hartina, Lie (2005: 46) mengemukakan bahwa kelebihan dari kelompok berpasangan (kelompok yang teridiri dari 2 orang siswa) adalah 1) akan meningkatkan pasrtisipasi siswa, 2) cocok untuk tugas sederhana, 3) lebih banyak memberi kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, 4) interaksi lebih mudah, dan 5) lebih mudah dan cepat membentuk kelompok. Selain itu, menurut Lie, keuntungan lain dari teknik ini adalah teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak (Hartina, 2008: 12). Menurut Lie (2005: 46), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa) adalah: 1) banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor, 2) lebih sedikit ide yang muncul, dan 3) tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam kelompok.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116366193904730371-121934431087449952?l=epta86.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://epta86.blogspot.com/feeds/121934431087449952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116366193904730371&amp;postID=121934431087449952&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/121934431087449952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/121934431087449952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://epta86.blogspot.com/2009/08/model-pembelajaran-kooperatif-tipe.html' title='Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair and Share'/><author><name>duniaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14316567180501072898</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnGD1jHT--I/AAAAAAAAAAw/hCXEE8T6k24/S220/428066087_c040af4b77_o%5B1%5D.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116366193904730371.post-8220568363863497094</id><published>2009-08-03T19:51:00.002+08:00</published><updated>2009-08-03T19:58:43.312+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Minggu Ini'/><title type='text'>Kloning</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kloning berasal dari kata ‘&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Clone&lt;/span&gt;” yang diturunkan dari bahasa Yunani “&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Klon&lt;/span&gt;” yan artinya potongan yang digunakan untuk memperbanyak tanaman. Kloning adalah langkah penggandaan (pembuatan tiruan yang sama persis) dari suatu makhluk hidup dengan menggunakan kode DNA makhluk tersebut. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kloning&lt;/span&gt; sebagai prosedur perbanyakan non-seksual telah sukses dilakukan sejak tahun 1952 oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Briggs dan King&lt;/span&gt;, dan disempurnakan di Oxford oleh S&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ir John Gurdon&lt;/span&gt; tahun 1962-1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kloning dapat berupa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;klon sel,&lt;/span&gt; yaitu sekelompok sel yang identik sifat-sifat genetiknya, semua berasal dari satu sel, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;klon gen atau molecular&lt;/span&gt;, yaitu sekelompok salinan gen yang bersifat identik yang direplikasi dari satu gen yang dimasukkan ke dalam sel inang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kloning sel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kloning sel adalah teknik untuk menghasilkan salinan makhluk hidup dengan menggunakan bahan genetis dari sel makhluk itu sendiri. Kloning sel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Embryo splitting&lt;br /&gt;Pada teknik ini, kumpulan totipoten praembrio sebelum diletakkan ke dalam recipient, dipilah menjadi dua, yang kemudian menghasilkan dua embrio identik. Cara ini sering terjadi secara alamiah, yaitu dalam proses yang menghasilkan kembar identik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Blastomere dispersal&lt;br /&gt;Teknik ini dimulai dengan pemisahan secara mekanik sel-sel individual sebelum pembentukan blastosit (sel-sel awal membentuk bola yang berisi cairan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nuclear transfer atau subtitusi&lt;br /&gt;Teknik ini melibatkan pengosongan semua bahan genetik inti sel (kromosom-kromosom) dari sel elur yang telah matang. Sel telur yang inti selnya telah dikeluarkan itu kemudian diganti oleh inti sel lain dari donor yan telah terpilih. Pemasukan inti sel donor dapat dilakukan melalui mikroinjeksi atau melalui fusi sel-sel. Teknik yang terakhir inilah yang digunakan untuk menghasilkan domba Dolly di lembaga Roslin di United Kingdom. Berikut ini adalah gambar tahapan kloning domba Dolly.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbQUkc5GrI/AAAAAAAAADI/lZ63HjpE2oI/s1600-h/cloning.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbQUkc5GrI/AAAAAAAAADI/lZ63HjpE2oI/s320/cloning.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365705057859345074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selain domba Dolly, hasil dari cloning sel adalah kucing yang bernama Tabouli dan Baba Ganoush yang dibuat oleh James Rob dari perusahaan kloning “Genetic Savings and Cloning” di Fransisco, AS. Kedua kucing cloning ini dibuat dengan menggunakan metode transfer kromatin yaitu, melibatkan peleburan nukleus dan selanjutnya, inti sel yang telah diubah tersebut dimasukkan ke dalam sel telur untuk menciptakan klon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kloning gen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kloning gen merupakan suatu terobosan baru untuk mendapatkan sebuah gen yang mungkin sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia. Kloning gen meliputi serangkaian proses isolasi fragmen DNA spesifik dari genom suatu organisme, penentuan sekuen DNA, pembentukan molekul DNA rekombinan, dan ekspresi gen target dalam sel inang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan sekuen DNA melalui sekuensing bertujuan untuk memastikan fragmen DNA yang kita isolasi adalah gen target yang sesuai dengan keinginan kita. Gen target tersebut selanjutnya diklon dalam sebuah ektor (plasmid, phage atau cosmid) melalui teknologi DNA rekombinan yang selanjutnya membentuk molekul DNA rekombinan. DNA rekombinan yang dihasilkan kemudian ditransformasi ke dalam sel inang (biasanya sel bakteri) untuk diproduksi lebih banyak. Gen-gen target yang ada di dalam sel inang jika diekspresikan akan menghasilkan produk gen yang kita inginkan. Salah satu hasil dari aplikasi kloning gen adalah produksi insulin yang dilakukan di dalam sel inang bakteri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;E. coli.&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbQU4vUmpI/AAAAAAAAADQ/QihsTJClIco/s1600-h/cloning2.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 260px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbQU4vUmpI/AAAAAAAAADQ/QihsTJClIco/s320/cloning2.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365705063305353874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116366193904730371-8220568363863497094?l=epta86.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://epta86.blogspot.com/feeds/8220568363863497094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116366193904730371&amp;postID=8220568363863497094&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/8220568363863497094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/8220568363863497094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://epta86.blogspot.com/2009/08/kloning.html' title='Kloning'/><author><name>duniaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14316567180501072898</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnGD1jHT--I/AAAAAAAAAAw/hCXEE8T6k24/S220/428066087_c040af4b77_o%5B1%5D.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbQUkc5GrI/AAAAAAAAADI/lZ63HjpE2oI/s72-c/cloning.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116366193904730371.post-8150901793035877010</id><published>2009-08-03T19:35:00.004+08:00</published><updated>2009-08-03T19:51:36.715+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Minggu Ini'/><title type='text'>Rekombinasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Selain mutasi, mekanisme lain yang dapat menyebabkan terjadinya variasi genetik adalah rekombinasi. Jasad hidup yang diturunkan dari suatu induk tidak selalu mempunyai sifat-sifat genetik yang sama dengan induknya karena umumnya jasad turunan (progeny) telah mengalami komposisi genetik yang berbeda. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:arial;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rekombinasi genetik&lt;/span&gt; adalah proses pertukaran elemen genetik yang dapat terjadi antara untaian DNA yang berlainan (interstrand), atau antara bagian-bagian gen yang terletak dalam satu untaian DNA (intrastrand). Dalam pengertian yan lebih sederhana, rekombinasi genetik didefinisikan menjadi penggabungan  gen dari satu atau lebih sel ke sel target. Sel yang disisipi atau dimasuki gen dari luar atau dari sel lain disebut biakan rekombinan.&lt;br /&gt;Fungsi dari rekombinasi genetik bervariasi tergantung mekanismenya. Beberapa fungsi rekombinasi genetik adalah memelihara perbedaan genetik, sistem perbaikan DNA khusus, regulasi ekspresi gen tertentu, dan penyusunan kembali genetik yang diprogram selama perkembangan. Secara garis besar ada tiga tipe rekombinasi genetik yang sudah banyak diketahui, yaitu (1) rekombinasi homolog/ umum, (2) rekombinasi khusus (site-specific rekombination), dan (3) rekombinasi transposisi/ replikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rekombinasi Homolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rekombinasi homolog menyebabkan terjadinya pertukaran antarmolekul DNA yang merupakan homologi urutan nukleotida cukup besar. Ciri khusus rekombinasi homolog adalah bahwa proses tersebut dapat terjadi setiap titik di daerah homologi. Rekombinasi terjadi melalui tahap pemotongan untaian DNA yang kemudian diikuti dengan proses penggabungan kembali. Rekombinasi antarkromosom melibatkan proses pertukaran sekara fisik antara bagian-bagian kromosom. Proses rekombinasi terjadi sekara akurat sehingga tidak ada satupun pasangan basa nukleotida yang hilang atau ditambahkan ke dalam kromosom rekombinan. Proses pertukaran tersebut menyebabkan terbentuknya struktur yang dapat terlihat sebagai kiasma (chiasma) pada waktu meiosis. Kiasma merupakan tempat pemotongan dan penggabungan kembali untai DNA, yaitu ketika dua kromatid yang berbeda (non-sister chromatids) terpotong dan tergabungkan satu sama lain. Rekombinasi homolog dimulai ketika dua kromosom homolog terletak berdekatan satu sama lain sehingga urutan nukleotida yang homolog dapat dipertukarkan. Kontak antara dua pasang kromosom tersebut, disebut sebagai proses sinapsis, terjadi pada awal meiosis yaitu pada profase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rekombinasi Khusus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari proses rekombinasi homolog, rekombinasi khusus hanya terjadi pada tempat khusus di dalam segmen molekul DNA. Pertukaran materi genetik dilakukan oleh protein khusus yang mengkatalisis pemotongan dan penggabungan molekul DNA sekara tepat pada tempat terjadinya rekombinasi. Proses rekombinasi semakam ini tidak tergantung pada protein recA. Rekombinasi khusus mempunyai beberapa kirri, yaitu: (i) proses rekombinasi terjadi di tempat khusus pada kedua fragmen DNA, (ii) rekombinasi berlangsung timbal balik (reciprocal), artinya kedua hasil pertukaran genetik tersebut dapat diperoleh kembali, (iii) rekombinasi terjadi sekara konservatif, artinya proses pertukaran genetik tersebut dilakukan melalui pemotongan dan penyambungan kembali bagian DNA yang berekombinasi tanpa ada sintesis nukleotida baru, dan (iv) bagian yang mengalami rekombinasi tersebut mempunyai homologi dalam hal urutan nukleotida. Proses rekombinasi khusus dimulai dengan terjadinya pemotongan bagian DNA yang akan berekombinasi pada daerah yang mempunyai homologi sehingga dihasilkan ujung lekat (sticky end). Kedua ujung lekat pada kedua fragmen DNA yang berekombinasi tersebut kemudian mengalami pertukaran untai DNA sehingga akan terbentuk konfigurasi rekombinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rekombinasi Meiotik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rekombinasi meiotik adalah proses rekombinasi yang terjadi pada jasad eukaryotik pada saat terjadi proses meiosis. Dalam beberapa hal mekanisme rekombinasi meiotik menunjukkan kemiripan dengan proses rekombinasi homolog pada bakteri meskipun beberapa tahapan awalnya berbeda. Proses rekombinasi meiotik pada eukariot dimulai dengan adanya pemotongan dua untai DNA (double-strand break) yang ada pada salah satu kromosom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;Pada organisme eukariot, rekombinasi genetik terjadi melalui penggabungan seksual sel telur dan sel sperma. Di dalam proses ini, kromosom sel sperma dan sel telur mengalami pemotongan pada titik homolog, dari potongan-potongan kromosom dari kedua sel induk lagi bertukar dan bergabung bersama-sama, menghasilkan gen kombinasi baru menghasilkan progeny yang mengandung berbagai sifat fenotip yang diturunkan dari kedua induk. Pemotongan, penyusunan kembali, dan bersatunya gen dan serangkaian gen selama konjugasi seksual pada eukariot terjadi dengan ketepatan yang tinggi tanpa mengganggu kerangka pembacaan atau isyarat pada urutan DNA. Pada bakteri yang tidak menjalani meiosis, rekombinasi genetik terjadi pada seperti konjugasi antara dua kromosom homologous yang terjadi selama atau segera setelah replikasi. Rekombinasi genetik yang terjadi pada bakteri dan kapang dapat terjadi melalui proses berikut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rekombinasi pada bakteri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Transformasi, yaitu pemutusan fragmen kromosom maupun plasmid dari sel donor dan bergabung dengan fragmen kromosom maupun plasmid dari sel penerima.&lt;br /&gt;Transduksi, yaitu pemindahan DNA dari satu bakteri ke bakteri lain melalui pertolongan virus yang menginfeksi bakteri (bakteriofage) dan DNAnya terintegrasi dengan kromosom bakteri (fage temperate).&lt;br /&gt;Lisogeni, yaitu bergabungnya DNA (pada jenis fage tertentu) ke dalam kromosom melingkar sel inang secara kovalen.&lt;br /&gt;Konjugasi, yaitu pemindahan episoma (molekul DNA mirip plasmid) melalui factor F (fertilitas) dari sel donor (F+) ke sel penerima (F-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rekombinasi pada kapang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siklus seksual, yaitu penggabungan nukleus yang terjadi setelah penggabungan hifa membentuk heterokariotik, kemudian pada proses meiosis selanjutnya terjadi rekombinasi.&lt;br /&gt;Siklus paraseksual yang terjadi pada kapang yang tidak mempunyai siklus seksual. Penggabungan hifa akan menghasilkan heterokartion; kadang-kadang terjadi interaksi antar nukleus membentuk satu nukleus diploid, lalu terjadi penyilangan mitosis antara kromatid pada kromosom homolog sehingga terjadilah rekombinasi genetik.&lt;br /&gt;Rekombinasi penggabungan protoplasma. Dengan bantuan senyawa propilenglikol (PEG) protoplas akan membentuk agregat, diikuti penggabungan dan pertukaran DNA antar protoplas.&lt;br /&gt;Selain mengalami rekombinasi alamiah, serangkaian gen juga dapat direkombinasikan di dalam tabung reaksi untuk menghasilkan kombinasi baru yang tidak terdapat secara biologis. Misalnya, kita dapat mengisolasi gen yang menentukan dua jenis protein yang berbeda dari dua jenis spesies organisme dan mempersatukannya membentuk rekombinasi baru. Pengembangbiakan gen-gen rekombinan dan ekspresinya secara buatan kini telah banyak dikembangkan, diantaranya adalah insulin, hormon pertumbuhan, interferon yang dihasilkan oleh bakteri dengan menyisipkan gen penyandi yang sesuai dengan produk yang diinginkan. Bermacam-macam protein yang berguna dalam bidang pertanian juga dapat diproduksi dalam jumlah besar di dalam sel-sel inang pembawa gen-gen rekombinan yang sesuai, misalnya dengan menghasilkan tanaman tomat yang tahan hama dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, tahap-tahap rekombinasi alami dan buatan dapat dilihat pada gambar berikut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rekombinasi alami&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbMv6_REOI/AAAAAAAAADA/9TIePJYR68k/s1600-h/nrm1759-f1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 296px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbMv6_REOI/AAAAAAAAADA/9TIePJYR68k/s320/nrm1759-f1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365701129719058658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada gambar di atas, terlihat bahwa pada fase profase pada meiosis I, kromosom homolog bersaudara mengalami rekombinasi pada titik homolog. Daerah terjadinya rekombinasi disebut kiasma. Pada tahap ini terjadi crossing over sehingga terbentuk kromosom rekombinan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rekombinasi buatan&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbMvbJDp5I/AAAAAAAAACw/MdohdMYfEro/s1600-h/chimericDNA.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 290px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbMvbJDp5I/AAAAAAAAACw/MdohdMYfEro/s320/chimericDNA.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365701121170188178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rekombinasi buatan dapat dilakukan dengan mnggabungkan gen dari suatu organisme ke DNA vektor (biasanya plasmid). Rekombinasi buatan ini melibatkan pemotongan gen yang dinginkan dan menyambungkannya ke DNA plasmid (Gambar berikut). Proses pemotongan DNA plasmid dan gen yang diinginkan melibatkan enzim yang spesifik (contoh enzim EcoR1, enzim yang digunakan sama). selanjutnya gen tersebut disambungkan ke DNA plasmid dengan menggunakan enzim ligase.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbMvhpG2rI/AAAAAAAAAC4/g1aFeFVmaZM/s1600-h/inserting2.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 262px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbMvhpG2rI/AAAAAAAAAC4/g1aFeFVmaZM/s320/inserting2.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365701122915228338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116366193904730371-8150901793035877010?l=epta86.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://epta86.blogspot.com/feeds/8150901793035877010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116366193904730371&amp;postID=8150901793035877010&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/8150901793035877010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/8150901793035877010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://epta86.blogspot.com/2009/08/rekombinasi.html' title='Rekombinasi'/><author><name>duniaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14316567180501072898</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnGD1jHT--I/AAAAAAAAAAw/hCXEE8T6k24/S220/428066087_c040af4b77_o%5B1%5D.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbMv6_REOI/AAAAAAAAADA/9TIePJYR68k/s72-c/nrm1759-f1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116366193904730371.post-5290133899944121819</id><published>2009-08-03T19:28:00.001+08:00</published><updated>2009-08-03T19:34:52.325+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Minggu Ini'/><title type='text'>Perbaikan DNA</title><content type='html'>DNA adalah molekul yang terus-menerus dapat mengalami kerusakan atau perubahan kimia. Perubahan kimia ini dapat disebabkan oleh radiasi yang berenergi tinggi, ketidakstabilan kimiawi basa sitosin di dalam sistem cairan dan kerusakan oleh senyawa kimia reaktif di lingkungan. Seperti radiasi ultraviolet, radiasi pengion, sinar kosmik, sinar X, dan pancaran radio aktif dari pengujian bom atom serta hasil buangan radio aktif dari tenaga nuklir. Radiasi ultraviolet dan pengion menimbulkan kerusakan DNA sampai kira-kira 10 % dari kerusakan yang disebabkan oleh agen-agen non biologis. Selain itu, kerusakan DNA juga dapat disebabkan oleh stress. Kerusakan tersebut dapat segera diperbaiki oleh sel, melalui mekanisme enzimatik spesifik.&lt;br /&gt;Perbaikan kerusakan DNA oleh sel dapat dilakukan melalui mekanisme: a) perbaikan bebas kesalahan, yaitu DNA yang diperbaiki persis seperti keadaan semula, b) perbaikan dengan fotoreaktivasi, yaitu dengan menggunakan enzim fotoreaktivasi yang dapat memutuskan ikatan kovalen basa timin-timin (dimer timin), c) perbaikan eksisi, yaitu DNA yang rusak dipotong pada bagian yang rusak lalu disambung kembali oleh enzim polymerase dan ligase, d) perbaikan rekombinasi postreplikatif, yaitu utas DNA induk yang rusak akan menghasilkan DNA tiruan yang mempunyai celah setelah duplikasi, dan e) perbaikan tidak bebas kesalahan, yaitu bagian DNA yang rusak diperbaiki dengan komponen yang mungkin tidak sama dengan komponen yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbaikan kerusakan DNA juga dapat terjadi dengan cara rekombinasi homolog. Untuk menghindari kerusakan kromosom dan memungkinkan perbaikan, daerah yang mengalami kerusakan harus mendapatkan strand komplemeter. Jalur rekombinasi membuat penggunaan DNA homolog pada cabang lain dari cabang replikasi. Protein rec-A memediasi reaksi pertukaran strand yang menjalankan perbaikan DNA dengan bantuan energy ATP hidrolisis. Ketika kerusakan dibuat menjadi bagian dupleks, kerusakan dapat berangsur-angsur diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerusakan karena ultraviolet &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika bakteri dikenai sinar ultraviolet, dapat terjadi penggabungan kovalen dan residu pirimidin pada untai &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbKmUAJzGI/AAAAAAAAACo/yS3PEcL5p_c/s1600-h/perbaikan+DNA.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 262px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbKmUAJzGI/AAAAAAAAACo/yS3PEcL5p_c/s320/perbaikan+DNA.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365698765611715682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;DNA, (seringkali dua residu timin) membentuk suatu basa dimer. Jika tidak dilepaskan dan diperbaiki, dimer timin ini menghalangi proses replikasi oleh DNA polimerase terhadap untai di belakang daerah kerusakan ini. Dimer timin dikeluarkan dan tempat kosong yang ditinggalkan disambung kembali oleh kerja empat enzim secara berurutan. Enzim &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pertama&lt;/span&gt; dinamakan ultraviolet endonuklease atau endonuklease UV. Enzim ini memotong untaian DNA yang mengalami kerusakan pada tempat 5’ dimer timin. Pada&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; tahap kedua&lt;/span&gt;, DNA polimerase I menambahkan deoksiribonukleotida yang  benar ke ujung 3’ untai rusak yang terbuka, membuat potongan pendek DNA yang bersifat komplementer dengan untai cetakan. Selama proses ini, baik DNA  yang mengandung dimer timin akan terlepas. Pada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tahap ketiga&lt;/span&gt;, endonuklease memotong bagian yang rusak ini. Pada tahap terakhir potongan DNA baru dengan pasangan basa yang benar disisipkan ke dalam untaian keseluruhan oleh DNA ligase. Dimer primidin dapat dibentuk dan diperbaiki bukan hanya pada bakteri yang terkena radiasi ultraviolet, tetapi juga pada sel-sel mulut manusia yang terbuka terhadap sinar matahari yang tidak tersaing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerusakan oleh Deaminasi Spontan Sitosin menjadi Urasil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DNA juga dapat mengalami perubahan oleh karena ketidakstabilan kimiawi basa sitosin di dalam sistem cairan. Residu sitosin secara perlahan-lahan mengalami kehilangan spontan gugus aminonya oleh hidrolisis menjadi residu urasil, yang biasanya tidak dijumpai pada DNA. Bilaman untai DNA yang mengandung residu urasil melangsungkan replikasi, urasil tidak dapat membentuk ikatan  yang kuat dengan residu Guanin (G) yaitu pasangan normal sitosin. Sebaliknya urasil akan cenderung berpasangan dengan residu adenin. Bilaman untai DNA baru yang mengandung residu A yang salah melakukan replikasi tentunya keduanya akan memperoleh T pada untai komplementer. Hasilnya adalah dupleks DNA anak yang mengandung pasangan basa A-T dan bukan pasangan G-C seperti ditentukan oleh DNA induk semula yang tidak rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kerusakan ini diperbaiki dengan suatu cara baru. Enzim khusus urasil –DNA glikosidase, menghidrolisis basa urasil yang salah ini dari untai rusak tersebut. Residu deoksiribosa fosfat yang tertinggal, yang sekarang kehilangan basa, kemudian dipotong pada sisi 5’ ikatan fosfodiesternya oleh DNA polimerase I yang selanjutnya menyisipkan unit sitidin fosfat yang benar pada ujung 3’ yang sekarang terbuka pada untai rusak tadi, untuk berpasangan basa dengan residu G pada untai yang tidak rusak. Untai ini lalu disambung secara kovalen oleh DNA ligase untuk menyempurnakan proses perbaikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerusakan oleh Senyawa Kimia Eksternal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DNA juga dapat mengalami kerusakan oleh senyawa kimia reaktif yang terbawa ke lingkugan sebagai produk aktivitas industri. Produk tersebut tidak selalu merusak dalam keadaan aslinya, tetapi dapat mengalami metabolisme oleh sel menjadi bentuk yang merusak. Senyawa kimia reaktif tersebut dapat digolongkan menjadi tiga golongan utama, yaitu 1) senyawa penyebab deaminasi, terutama asam nitrat (HNO2) atau senyawa yang dapat mengalami metabolisme menjadi asam nitrit atau turunan nitrit lainnya, 2) senyawa penyebab alkilasi, misalnya senyawa dimetilsulfat yang sangat reaktif dapat menyebabkan metilasi residu guanine dan menghasilkan O-metilguanin yang tidak dapat melakukan pasangan basa dengan sitosin yang merupakan pasangan normal guanin, dan 3) senyawa kimia yang dapat merangsang atau bersifat basa yang biasanya terdapat pada DNA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116366193904730371-5290133899944121819?l=epta86.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://epta86.blogspot.com/feeds/5290133899944121819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116366193904730371&amp;postID=5290133899944121819&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/5290133899944121819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/5290133899944121819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://epta86.blogspot.com/2009/08/perbaikan-dna.html' title='Perbaikan DNA'/><author><name>duniaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14316567180501072898</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnGD1jHT--I/AAAAAAAAAAw/hCXEE8T6k24/S220/428066087_c040af4b77_o%5B1%5D.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbKmUAJzGI/AAAAAAAAACo/yS3PEcL5p_c/s72-c/perbaikan+DNA.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116366193904730371.post-3847179519149846574</id><published>2009-08-03T18:52:00.008+08:00</published><updated>2009-08-03T19:26:10.402+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Minggu Ini'/><title type='text'>Mutasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;Walaupun penyuntingan dan mekanisme perbaikan DN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;A sangat efektif, beberapa kesalahan di dalam replika&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;si yang tidak dapat dihindark&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;an di atas tetap tidak dapat diperbaiki atau deng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;an kata lain, ada kerusakan DNA yang tetap “tertinggi”, mengakibatkan perubahan yang akan bersifat  menurun pada genom organisme bersangkutan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;. Perubahan permanen tersebut dinamakan Mutasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah mutasi petama kali digunakan oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hugo de V&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ries&lt;/span&gt;, untuk mengemukakan adanya perubahan fenotipe yang mendadak pada bunga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oenothera lamarckiana&lt;/span&gt;  dan bersifat menurun. Ternyata perubahan tersebut terjadi karena adanya penyimpangan dari kromosomnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seth wright&lt;/span&gt; juga melaporkan peristiwa mutasi pada domba jenis Ancon yang berkaki pendek dan bersifat menurun. Penelitian ilmiah tentang mutasi dilakukan pula oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;organ&lt;/span&gt; (1910) dengan menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Drosophila melanogaster&lt;/span&gt; (lalat buah). Akhirnya murid Morgan yang bernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Herman Yoseph Muller&lt;/span&gt; berhasil dalam percobaannya terhadap lalat buah, yaitu menemukan mutasi buatan dengan menggunakan sinar X (Anonim, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mutasi &lt;/span&gt;adalah perubahan pada materi genetik suatu makhluk yang terjadi secara tiba-tiba, acak, dan merupakan dasar bagi sumber variasi organisme hidup yang bersifat terwariskan (heritable). Mutasi juga dapat diartikan sebagai perubahan struktural atau komposisi genom suatu jasad yang dapat terjadi karena faktor luar (mutagen) atau karena kesalahan replikasi. Peristiwa terjadinya mutasi disebut mutagenesis. Makhluk hidup yang mengalami mutasi disebut mutan dan factor penyebab mutasi disebut mutagen (mutagenic agent). Perubahan urutan nukleotida yang menyebabkan protein yang dihasilkan tidak dapat berfungsi baik dalam sel dan sel tidak mampu mentolerir inaktifnya protein tersebut, maka akan menyebabkan kematian (lethal mutation).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jenis-jenis Mutasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.  Menurut Kejadiannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mutasi dapat terjadi secara spontan (spontaneous mutation) dan juga dapat terjadi melalui induksi (induced mutation). Mutasi spontan adalah mutasi (perubahan materi genetik) yang terjadi akibat adanya sesuatu pengaruh yang tidak jelas, baik dari lingkungan luar maupun dari internal organisme itu sendiri. Sedangkan mutasi terinduksi adalah mutasi yang terjadi akibat paparan dari sesuatu yang jelas, misalnya paparan sinar UV. Secara mendasar tidak terdapat perbedaan antara mutasi yang terjadi secara alami dan mutasi hasil induksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.  Berdasarkan Sel yang Bermutasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan jenis sel yang mengalami mutasi, mutasi dibedakan atas mutasi somatik dan mutasi gametik atau germinal. Mutasi somatik adalah mutasi yang terjadi pada sel-sel somatik. Sedangkan mutasi gametik atau germinal adalah mutasi yang terjadi pada sel gamet. Mutasi somatik dapat diturunkan dan dapat pula tidak diturunkan. Sedangkan mutasi gametik, karena terjadinya di sel gamet, maka akan diwariskan oleh keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.  Berdasarkan Bagian yang Bermutasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan bagian yang bermutasi, mutasi dibedakan menjadi mutasi DNA, mutasi gen dan mutasi kromosom.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1)    Mutasi DNA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mutasi DNA terdiri atas:&lt;br /&gt;a. Mutasi transisi, yaitu suatu pergantian basa purin dengan basa purin lain atau pergantian basa pirimidin dengan basa pirimidin lain; atau disebut juga pergantian suatu pasangan basa purin-pirimidin dengan pasangan purin-pirimidin lain. Misalnya: ATàGS, GSàAT, SGàTA.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbFxmQwczI/AAAAAAAAABY/ivM951dbgI4/s1600-h/TRANSISI.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 55px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbFxmQwczI/AAAAAAAAABY/ivM951dbgI4/s320/TRANSISI.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365693461933617970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;b. Mutasi tranversi, yaitu suatu pergantian antara purin dengan pirimidin pada posisi yang sama.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbFx5WocVI/AAAAAAAAABg/vdMnu8sVios/s1600-h/iNVERSI.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 55px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbFx5WocVI/AAAAAAAAABg/vdMnu8sVios/s320/iNVERSI.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365693467058532690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;c. Insersi, yaitu penambahan satu atau lebih pasangan nukleotida pada suatu gen.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbFyB8UF1I/AAAAAAAAABo/s1QcDceSdto/s1600-h/InsertionMutationGEN.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 306px; height: 243px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbFyB8UF1I/AAAAAAAAABo/s1QcDceSdto/s320/InsertionMutationGEN.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365693469364066130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;d. Delesi, yaitu pengurangan satu atau lebih pasangan nukleotida pada suatu gen.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbFyW7O1aI/AAAAAAAAABw/kGkwo6tEWEA/s1600-h/DeletionMutationGEN.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 306px; height: 243px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbFyW7O1aI/AAAAAAAAABw/kGkwo6tEWEA/s320/DeletionMutationGEN.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365693474996671906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2)    Mutasi Gen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mutasi gen adalah mutasi yang terjadi dalam lingkup gen. Peristiwa yang terjadi pada mutasi gen adalah perubahan urutan-urutan DNA. Jenis-jenis mutasi gen adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Mutasi salah arti (missens mutation), yaitu perubahan suatu kode genetic (umumnya pada posisi 1 dan 2 pada kodon) sehingga menyebabkan asam amino terkait (pada polipeptida) berubah. Perubahan pada asam amino dapat menghasilkan fenotip mutan apabila asam amino yang berubah merupakan asam amino esensial bagi protein tersebut. Jenis mutasi ini dapat disebabkan oleh peristiwa transisi dan tranversi.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbHoZcCo2I/AAAAAAAAACA/peZyVx9qtxo/s1600-h/mutation-missense.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 138px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbHoZcCo2I/AAAAAAAAACA/peZyVx9qtxo/s320/mutation-missense.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365695502895719266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;b. Mutasi diam (silent mutation), yaitu perubahan suatu pasangan basa dalam gen (pada posisi 3 kodon) yang menimbulkan perubahan satu kode genetik tetapi tidak mengakibatkan perubahan atau pergantian asam amino yang dikode. Mutasi diam biasanya disebabkan karena terjadinya mutasi transisi dan tranversi.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbHokUexgI/AAAAAAAAACQ/RzX9u7TVnbs/s1600-h/mutation-silent,jpeg.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 138px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbHokUexgI/AAAAAAAAACQ/RzX9u7TVnbs/s320/mutation-silent,jpeg.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365695505816798722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;c. Mutasi tanpa arti (nonsense mutation), yaitu perubahan kodon asam amino tertentu menjadi kodon stop. Hampir semua mutasi tanpa arti mengarah pada inaktifnya suatu protein sehingga menghasilkan fenotip mutan. Mutasi ini dapat terjadi baik oleh tranversi, transisi, delesi, maupun insersi.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbHorO98lI/AAAAAAAAACI/mWOpVO7EgTQ/s1600-h/mutation-nonsense.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 138px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbHorO98lI/AAAAAAAAACI/mWOpVO7EgTQ/s320/mutation-nonsense.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365695507672724050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;d. Mutasi perubahan rangka baca (frameshift mutation), yaitu mutasi yang terjadi karena delesi atau insersi satu atau lebih pasang basa dalam satu gen sehingga ribosom membaca kodon tidak lengkap. Akibatnya akan menghasilkan fenotip mutan.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbHoA_2x-I/AAAAAAAAAB4/bW9YUEYW4TU/s1600-h/mutation-frameshift.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 138px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbHoA_2x-I/AAAAAAAAAB4/bW9YUEYW4TU/s320/mutation-frameshift.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365695496335050722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3).  Mutasi kromosom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mutasi kromosom yaitu mutasi yang disebabkan karena perubahan struktur kromosom atau perubahan jumlah kromosom. Istilah mutasi pada umumnya digunakan untuk perubahan gen, sedangkan perubahan kromosom yang dapat diamati dikenal sebagai variasi kromosom atau mutasi besar/ gross mutation atau aberasi. Mutasi kromosom sering terjadi karena kesalahan pada meiosis maupun pada mitosis. Pada prinsipnya, mutasi kromosom digolongkan rnenjadi dua, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)    Mutasi Komosom Akibat Perubahan Jumlah Kromosom&lt;br /&gt;Mutasi kromosom yang terjadi karena perubahan jumlah kromosom (ploid) melibatkan kehilangan atau penambahan perangkat kromosom (genom) disebut euploid, sedang yang hanva terjadi pada salah satu kromosom dari genorn disebut aneuploid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Euploid (eu = benar; ploid = unit)&lt;br /&gt;Yaitu jenis mutasi dimana terjadi perubahan pada jumlah n. Makhluk hidup yang terjadi dari perkembangbiakan secara kawin, pada umumnya bersifat diploid, memiliki 2 perangkat kromosom atau 2 genom pada sel somatisnya (2n kromosom). Organismee yang kehilangan I set kromosomnya sehingga memiliki satu genom atau satu perangkat kromosom (n kromosom) dalam sel somatisnya disebut monoploid. Sedang organisme yang memiliki lebih dari dua genom disebut poliploid. Mutasi poliploid ada dua, yaitu (1) autopoliploid yang terjadi akibat n-nya mengganda sendiri karena kesalahan meiosis dan terjadi pada krornosom homolog, misalnya semangka tak berbiji; dan (2) alopoIiploid yang terjadi karena perkawinan atau hybrid antara spesies yang berbeda jumlah set kromosomnya dan terjadi pada kromosom non homolog, misalnya Rhaphanobrassica (akar seperti kol, daun mirip lobak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Aneuploid (an = tidak; eu = benar; Ploid = Unit)&lt;br /&gt;Yaitu jenis mutasi dimana terjadi perubahan jumlah kromosom. Mutasi kromosom ini tidak melibatkan seluruh genom yang berubah, rnelainkan hanya terjadi pada salah satu kromosom dari genom. Mutasi ini disebut juga dengan istilah aneusomik. Penyebab mutasi ini adalah anafase lag (peristiwa tidak melekatnya benang-benang spindle ke sentromer) dan nondisjunction (gagal berpisal). Macam-macam aneusomik antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;1)    monosomik (2n-1); yaitu mutasi karena kekurangan satu kromosom, misalnya Sindrom Turner pada manusia dimana jumlah kromosomnya 45 dan kehilangan 1 kromosom kelamin (22AA+X0).&lt;br /&gt;2)    nullisomik (2n-2); yaitu mutasi karena kekurangan dua kromosom&lt;br /&gt;3)    trisomik (2n + 1); yaitu mutasi karena kelebihan satu kromosom, misalnya Sindrom Klinefelter pada manusia dengan kariotipe 22AA+XXY dan Sindrom Jacobs (22AA+XYY).&lt;br /&gt;4)    tetrasomik (2n * 2); yaitu mutasi karena kelebihan dua kromosom.&lt;br /&gt;b).  Mutasi Kromosom Akibat Perubahan Struktur Kromosom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutasi karena perubahan struktur kromosom atau kerusakan bentuk kromosom disebut juga dengan istilah aberasi. Macam-macam aberasi dapat dijelaskan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Delesi atau defisiensi&lt;br /&gt;Delesi adalah mutasi karena kekurangan segmen kromosom. Penghilangan dapat terjadi pada segmen panjang lengan kromosom seperti yang dilaporkan pada tanaman gandum. Tergantung pada gen dan tingkat ploidi, defisiensi dapat menyebabkan kematian, separuh kematian, atau menurunkan viabilitas. Pada tanaman defisiensi yang ditimbulkan oleh perlakuan bahan mutagen (radiasi) sering ditunjukkan dengan munculnya mutasi klorofil. Kejadian mutasi klorofil biasanya dapat diamati pada stadia muda (seedling stag), yaitu dengan adanya perubahan warna pada daun tanaman. Macam-macam delesi antara lain:&lt;br /&gt;a)    Delesi terminal; ialah delesi yang kehilangan ujung segmen kromosom.&lt;br /&gt;b)    Delesi intertitial; ialah delesi yang kehilangan bagian tengah kromosom&lt;br /&gt;c)    Delesi cincin; ialah delesi yang kehilangan segmen kromosom sehingga berbentuk lingkaran seperti cincin.&lt;br /&gt;d)    Delesi loop; ialah delesi cincin yang membentuk lengkungan pada kromosom lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Duplikasi&lt;br /&gt;Mutasi karena kelebihan segmen kromosom. Mutasi ini terjadi pada waktu meiosis, sehingga memungkinkan adanya kromosom lain (homolognya) yang tetap normal. Duplikasi menampilkan cara peningkatan jumlah gen pada kondisi diploid. Dulikasi dapat terjadi melalui beberapa cara seperti: pematahan kromosom yang kemudian diikuti dengan transposisi segmen yang patah, penyimpangan dari mekanisme crossing-over pada meiosis (fase pembelahan sel), rekombinasi kromosom saat terjadi translokasi, sebagai konsekuensi dari inversi heterosigot, dan sebagai konsekuensi dari perlakuan bahan mutagen. Beberapa kejadian duplikasi telah dilaporkan dapat miningkatkan viabilitas tanaman. Pengaruh radiasi terhadap duplikasi kromosom telah banyak dipelajari pada bermacam jenis tanaman seperti jagung, kapas, dan barley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Translokasi.&lt;br /&gt;Translokasi ialah mutasi yang mengalami pertukaran segmen kromosom ke kromosom non homolog. Macam-macam translokasi antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;l.   Translokasi homozigot (resiprok)&lt;br /&gt;Translokasi homo zigot ialah translokasi yang mengalami pertukaran segmen kedua kromosom homolog dengan segmen kedua kromosom non homolog.&lt;br /&gt;2.  Translokasi heterozigot (non resiprok)&lt;br /&gt;Translokasi heterozigot ialah translokasi yang hanya mengalami pertukaran satu segmen kromosom ke satu segmen kromosom nonhomolog.&lt;br /&gt;3.  Translokasi Robertson&lt;br /&gt;Translokasi Robertson ialah translokasi yang terjadi karena penggabungan dua kromosom akrosentrik menjadi satu kromosom metasentrik, maka disebut juga fusion (penggabungan). Translokasi terjadi apabila dua benang kromosom patah setelah terkena energi radiasi, kemudian patahan benang kromosom bergabung kembali dengan cara baru. Patahan kromosom yang satu berpindah atau bertukar pada kromosom yang lain sehingga terbentuk kromosom baru yang berbeda dengan kromosom aslinya. Translokasi dapat terjadi baik di dalam satu kromosom (intrachromosome) maupun antar kromosom (interchromosome). Translokasi sering mengarah pada ketidakseimbangan gamet sehingga dapat menyebabkan kemandulan (sterility) karena terbentuknya chromatids dengan duplikasi dan penghapusan. Alhasil, pemasangan dan pemisahan gamet jadi tidak teratur sehingga kondisi ini menyebabkan terbentuknya tanaman aneuploidi. Translokasi dilaporkan telah terjadi pada tanaman Aegilops umbellulata dan Triticum aestivum yang menghasilkan mutan tanaman tahan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbI0f01psI/AAAAAAAAACY/Fpbz_z49Yfc/s1600-h/translocation.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 249px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbI0f01psI/AAAAAAAAACY/Fpbz_z49Yfc/s320/translocation.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365696810280396482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Inversi&lt;br /&gt;Inversi ialah mutasi yang mengalami perubahan letak gen-gen, karena selama meiosis kromosom terpilin dan terjadi kiasma. Inversi terjadi karena kromosom patah dua kali secara simultan setelah terkena energi radiasi dan segmen yang patah tersebut berotasi 180o dan menyatu kembali. Kejadian bila centromere berada pada bagian kromosom yang terinversi disebut pericentric, sedangkan bila centromere berada di luar kromosom yang terinversi disebut paracentric. Inversi pericentric berhubungan dengan duplikasi atau penghapusan chromatid yang dapat menyebabkan aborsi gamet atau pengurangan frequensi rekombinasi gamet. Perubahan ini akan ditandai dengan adanya aborsi tepung sari atau biji tanaman, seperti dilaporkan terjadi pada tanaman jagung dan barley. Inversi dapat terjadi secara spontan atau diinduksi dengan bahan mutagen, dan dilaporkan bahwa sterilitas biji tanaman heterosigot dijumpai lebih rendah pada kejadian inversi daripada translokasi. Macam-macam inversi antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;a) Inversi parasentrik; teriadi pada kromosom yang tidak bersentromer.&lt;br /&gt;b) lnversi perisentrik; terjadi pada kromosom yang bersentromer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Isokromosom&lt;br /&gt;lsokromosom ialah mutasi kromosom yang terjadi pada waktu menduplikasikan diri, pembelahan sentromernya mengalami perubahan arah pembelahan sehingga terbentuklah dua kromosom yang masing – masing berlengan identik (sama). Dilihat dari pembelahan sentromer maka isokromosom disebut juga fision, jadi peristiwanya berlawanan dengan translokasi Robertson (fusion) yang mengalami penggabungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Katenasi&lt;br /&gt;Katenasi ialah mutasi kromosom yang terjadi pada dua kromosom non homolog yang pada waktu membelah menjadi empat kromosom, saling bertemu ujung-ujungnya sehingga membentuk lingkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyebab Mutasi (Mutagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab mutasi dalam lingkungan dapat bersifat fisik, kimia, dan biologis.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mutagen Fisik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat fisik adalah radiasi dan suhu. Radiasi sebagai penyebab mutasi dibedakan menjadi radiasi pengion dan radiasi bukan pengion. Radiasi pengion adalah radiasi berenergi tinggi sedangkan radiasi bukan pengion adalah radiasi berenergi rendah. Contoh radiasi pengion adalah radiasi sinar X, sinar gamma, radiasi sinar kosmik. Contoh radiasi bukan pengion adalah radiasi sinar UV. Radiasi pengion mampu menembus jaringan atau tubuh makhluk hidup karena berenergi tinggi. Sementara radiasi bukan pengion hanya dapat menembus lapisan sel-sel permukaan karena berenergi rendah. Radiasi sinar tersebut akan menyebabkan perpindahan elektron-elektron ke tingkat energi yang lebih tinggi. Ataom-ataom yang memiliki elektron-elektron sedemikian dinyatakan tereksitasi atau tergiatkan. Molekul-molekul yang mengandung atom yang berada dalam keadaan tereksitasi maupun terionisasi secara kimiawi lebih reaktif daripada molekul yang memiliki atom-atom yang berada dalam kondisi stabil. Raktivitas yang meningkat tersebut mengundang terjadinya sejumlah reaksi kimia, terutama mutasi. Radiasi pengion dapat menyebabkan terjadinya mutasi gen dan pemutusan kromosom yang berakibat delesi, duplikasi, insersi, translokasi serta fragmentasi kromosom umumnya.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbI0jlDuBI/AAAAAAAAACg/xMEVHFl1FQc/s1600-h/radiation.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 284px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbI0jlDuBI/AAAAAAAAACg/xMEVHFl1FQc/s320/radiation.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365696811287951378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mutagen Kimiawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat kimiawi disebut juga mutagen kimiawi. Mutagen-mutagen kimiawi tersebut dapat dipilah menjadi 3 kelompok, yaitu analog basa, agen pengubah basa dan agen penyela. Senyawa yang merupakan contoh analog basa adalah 5-Bromourasil (5 BU). 5-BU adalah analog timin. Dalam hubungan ini posisi karbon ke-5 ditempati oleh gugus brom padahal posisi itu sebelumnya ditempati oleh gugus metil. Keberadaan gugus brom mengubah distribusi muatan serta meningkatkan peluang terjadinya tautomerik. Senyawa yang tergolong agen pengubah basa adalah mutagen yang secara langsung mengubah struktur maupun sifat kimia dari basa, yang termasuk kelompok ini adalah agen deaminasi, agen hidroksilasi serta agen alkilasi. Perlakuan dengan asam nitrit, misalnya, terhadap sitosin akan menghasilkan urasil yang berpasangan dengan adenin sehingga terjadi mutasi dari pasangan basa S-G menjadi T-A. Agen hidroksilasi adalah mutagen hydroxammin yang bereaksi khusus dengan sitosin dan menguabhnya sehingga sitosisn hanya dapat berpasangan dengan adenin. Sebagai akibatnya terjadi mutasi dari SG menjadi TA.agen alkilasi mengintroduksi gugus alkil ke dalam basa pada sejumlah posisi sehingga menyebabkan perubahan basa yang akibatnya akan terbentuk pasangan basa yang tidak lazim. Senyawa yang tergolong agen interkalasi akan melakukan insersi antara basa-basa yang berdekatan pada sati atau kedua unting DNA. Contoh agen interkalasi adalah proflavin, aeridine, ethidium bromide, dioxin dan ICR-70.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mutagen Biologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab mutasi gen yang disebabkan oleh faktor biologis adalah fag. Efek mutagenik yang ditimbulkan oleh fag terutama berkaitan dengan integrasi DNA fag, pemutusan dan delesi DNA inang. Mutagenesis fag dapat terjadi karena kerusakan DNA akibat pemutusan dan delesi yang mungkin timbul oleh efek nuklease atau karena gangguan perbaikan DNA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116366193904730371-3847179519149846574?l=epta86.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://epta86.blogspot.com/feeds/3847179519149846574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116366193904730371&amp;postID=3847179519149846574&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/3847179519149846574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/3847179519149846574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://epta86.blogspot.com/2009/08/mutasi.html' title='Mutasi'/><author><name>duniaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14316567180501072898</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnGD1jHT--I/AAAAAAAAAAw/hCXEE8T6k24/S220/428066087_c040af4b77_o%5B1%5D.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnbFxmQwczI/AAAAAAAAABY/ivM951dbgI4/s72-c/TRANSISI.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116366193904730371.post-4244351641017595569</id><published>2009-07-30T19:00:00.000+08:00</published><updated>2009-07-30T19:24:04.364+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Minggu Ini'/><title type='text'>Cekaman pada Tumbuhan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.1  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%; text-align: center;"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font style="color: rgb(204, 102, 204);" face="lucida grande"&gt;&lt;font style="font-weight: bold;"&gt;CEKAMAN PADA TUMBUHAN&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Pada prinsipnya, setiap tumbuhan memiliki kisaran tert&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;entu terhadap factor lingkungannya. Prinsip tersebut dinyatakan sebagai Hukum Toleransi Shelford, yang berbunyi “Setiap organism mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organism itu terhadap ko&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;ndisi factor lingkungannya” (Dharmawan, 2005). Pada gamba&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;r 1, terlihat bahwa setiap makhluk hidup memiliki &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;range of optimum&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; atau kisaran optimum terhadap factor lingkungan untuk pertumbuhannya. Kondisi di atas ataupun di bawah batas kisaran toleransi itu, makhluk hidup akan mengalami stress fisiologis. Pada kondisi stress fisiologis ini, populasi akan menurun. Apabila kondisi stress ini terus berlangsung dalam waktu yang lama dan telah mencapai batas toleransi kelulushidupan, maka organism tersebut akan mati.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnF9h4d1XnI/AAAAAAAAAAc/YDGTbCzMOKs/s1600-h/tolerance.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 589px; height: 245px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnF9h4d1XnI/AAAAAAAAAAc/YDGTbCzMOKs/s320/tolerance.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364206652221644402" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Gambar 1. Diagram kisaran toleransi organism terhadap kondisi factor lingkungannya&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Stres (cekaman) biasanya didefinisikan sebagai faktor luar yang tidak menguntungkan yang berpengaruh buruk terhadap tanaman&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; (Fallah, 2006). Campbell (2003), mendefinisikan cekaman sebagai kondisi lingkungan yang dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan, reproduksi, dan kelangsungan hidup tumbuhan. Menurut Hidayat (2002), pada umumnya cekaman lingkungan pada tumbuhan dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) cekaman biotik, terdiri dari: (a) kompetisi intra spesies dan antar spesies, (b) infeksi oleh hama dan penyakit, dan (2) cekaman abiotik berupa: (a) suhu (tinggi dan rendah), (b) air (kelebihan dan kekurangan), (c) radiasi (ultraviolet, infra merah, dan radiasi mengionisasi), (d) kimiawi (garam, gas, dan pestisida), (e) angin, dan (f) suara. Menurut Sipayung (2006), kerusakan yang timbul akibat stres dapat dikelompokkan dalam 3 jenis kerusakan sebagai berikut.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;a. Kerusakan stres langsung primer&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;b. Kerusakan stres tak langsung primer&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;c. Kerusakan stres sekunder (dapat terjadi juga stres tersier)&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol type="A"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.17in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;"&gt; 	&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Respon Terhadap 	Cekaman Air&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Faktor air dalam fisiologi tanaman merupakan faktor utama yang sangat penting. Tanaman tidak akan dapat hidup tanpa air, karena air adalah matrik dari kehidupan, bahkan makhluk lain akan punah tanpa air. Kramer menjelaskan tentang betapa pentingnya air bagi tumbuh-tumbuhan; yakni air merupakan bagian dari protoplasma (85-90% dari berat keseluruhan bahagian hijau tumbuh-tumbuhan (jaringan yang sedang tumbuh) adalah air. Selanjutnya dikatakan bahwa air merupakan reagen yang penting dalam proses-proses fotosintesa dan dalam proses-proses hidrolik. Disamping itu juga merupakan pelarut dari garam-garam, gas-gas dan material-material yang bergerak kedalam tumbuh tumbuhan, melalui dinding sel dan jaringan esensial untuk menjamin adanya turgiditas, pertumbuhan sel, stabilitas bentuk daun, proses membuka dan menutupnya stomata, kelangsungan gerak struktur tumbuh-tumbuhan.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Peran air yang sangat penting tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung kekurangan air pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya sehingga dapat menurunkan pertumbuhan tanaman (Sinaga, 2008). &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Efek kelebihan air atau banjir yang umum adalah kekurangan oksigen, sedangkan kekurangan air atau kekeringan akan mengakibatkan dehidrasi pada tanaman yang berpengaruh terhadap zona sel turgor yang selanjutnya dapat menghambat pertumbu&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;han tanaman (Fallah, 2006)&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Kebutuhan air bagi tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis tanaman dalam hubungannya dengan tipe dan perkembangannya, kadar air tanah dan kondisi cuaca.&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;1.  Respon 	Terhadap Cekaman Kelebihan Air&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Dampak genangan air adalah menurunkan pertukaran gas antara tanah dan udara yang mengakibatkan menurunnya ketersediaan O&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;2&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; bagi akar, menghambat pasokan O&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;2&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; bagi akar dan mikroorganisme (mendorong udara keluar dari pori tanah maupun menghambat laju difusi). Genangan berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimiawi antara lain respirasi, permeabilitas akar, penyerapan air dan hara, penyematan N. Genangan menyebabkan kematian akar di kedalaman tertentu dan hal ini akan memacu pembentukan akar adventif pada bagian di dekat permukaan tanah pada tanaman yang tahan genangan. Kematian akar menjadi penyebab kekahatan N dan cekaman kekeringan fisiologis (Staff Lab Ilmu Tanaman, 2008).&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;2.  Respon 	Terhadap &lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Cekaman 	Kekeringan&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Cekaman kekeringan pada tanaman disebabkan oleh kekurangan suplai air di daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan oleh daun dalam kondisi laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh akar tanaman. Serapan air oleh akar tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi, sistem perakaran, dan ketersediaan air tanah (Lakitan, 1996). Secara umum tanaman akan menunjukkan respon tertentu bila mengalami cekaman kekeringan. Staff Lab Ilmu Tanaman (2008) mengemukakan bahwa &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;cekaman kekeringan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu:&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Cekaman 	ringan :jika potensial air daun menurun 0.1 Mpa atau kandungan air 	nisbi menurun 8 – 10 %&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Cekaman 	sedang: jika potensial air daun menurun 1.2 s/d 1.5 Mpa atau 	kandungan air nisbi menurun 10 – 20 %&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Cekaman 	berat: jika potensial air daun menurun &gt;1.5 Mpa atau kandungan 	air nisbi menurun &gt; 20%&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Lebih lanjut Staff Lab Ilmu Tanaman mengemukakan bahwa apabila tanaman kehilangan lebih dari separoh air jaringannya dapat dikatakan bahwa tanaman mengalami kekeringan.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Kekurangan air akan mengganggu aktifitas fisiologis maupun morfologis, sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus menerus akan menyebabkan perubahan irreversibel (tidak dapat balik) dan pada gilirannya tanaman akan mati (Haryati, 2008). Respon tanaman terhadap stres air sangat ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat mengalami cekaman. Respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan mencakup perubahan ditingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningakatan ratio akar-tajuk, sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi aktivitas enzim dan hormon, serta perubahan ekspresi (Sinaga, 2008).&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju transpirasi untuk penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebabkan sel-sel penjaga kehilangan turgornya. Suatu mekanisme control tunggal yang memperlambat transpirasi dengan cara menutup stomata. Kekurangan air juga merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel mesofil daun. Hormon ini membantu mempertahankan stomata tetap tertutup dengan cara bekerja pada membrane sel penjaga. Daun juga berespon terhadap kekurangan air dengan cara lain. Karena pembesaran sel adalah suatu proses yang tergantung pada turgor, maka kekurangan air akan menghambat pertumbuhan daun muda. Respon ini meminimumkan kehilangan air melalui transpirasi dengan cara memperlambat peningkatan luas permukaan daun. Ketika daun dari kebanyakan rumput dan kebanyakan tumbuhan lain layu akibat kekurangan air, mereka akan menggulung menjadi suatu bentuk yang dapat mengurangi transpirasi dengan cara memaparkan sedikit saja permukaan daun ke matahari (Campbell, 2003). &lt;/font&gt;&lt;/font&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Kedalaman perakaran sangat berpengaruh terhadap jumlah air yang diserap. Pada umumnya tanaman dengan pengairan yang baik mempunyai sistem perakaran yang lebih panjang daripada tanaman yang tumbuh pada tempat yang kering. Rendahnya kadar air tanah akan menurunkan perpanjangan akar, kedalaman penetrasi dan diameter akar (Haryati, 2006). Hasil penelitian Nour dan Weibel tahun 1978 menunjukkan bahwa kultivarkultivar sorghum yang lebih tahan terhadap kekeringan, mempunyai perkaran yang lebih banyak, volume akar lebih besar dan nisbah akar tajuk lebih tinggi daripada lini-lini yang rentan kekeringan (Goldsworthy dan Fisher, dalam Haryati, 2006).&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Senyawa biokimia yang dihasilkan tanaman sebagai respon terhadap kekeringan dan berperan dalam penyesuaian osmotik bervariasi, antara lain gula-gula, asam amino, dan senyawa terlarut yang kompatibel. Senyawa osmotik yang banyak dipelajari pada toleransi tanaman terhadap kekeringan antara lain prolin, asam absisik, protein dehidrin, total gula, pati, sorbitol, vitamin C, asam organik, aspargin, glisin-betain, serta superoksida dismutase dan K+ yang bertujuan untuk menurunkan potensial osmotik sel tanpa membatasi fungsi enzim (Sinaga, 2008).&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.5in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;B.  Respon 	Terhadap &lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Cekaman 	Salinitas&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Stres garam terjadi dengan terdapatnya salinitas atau konsentrasi garam-garam terlarut yang berlebihan dalam tanaman. Stres garam ini umumnya terjadi dalam tanaman pada tanah salin. Stres garam meningkat dengan meningkatnya konsentrasi garam hingga tingkat konsentrasi tertentu yang dapat mengakibatkan kematian tanaman. Garam-garam yang menimbulkan stres tanaman antara lain ialah NaCl, NaSO&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;4&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;, CaCl&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;2&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;, MgSO&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;4&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;, MgCl&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;2&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; yang terlarut dalam air (Sipayung, 2006). &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Stres akibat kelebihan Na+ dapat mempengaruhi beberapa proses fisiologi dari mulai perkecambaha&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;n sampai pertumbuhan tanaman (Fallah, 2006)&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Menurut Petani Wahid (2006), kemasaman tanah merupakan kendala paling inherence dalam pengembangan pertanian di lahan sulfat masam. Tanaman tumbuh normal (sehat) umumnya pada ph 5,5 untuk tanah gambut dan pH 6,5 untuk tanah mineral karena pada pH &lt;&gt; 50 cm dari permukaan tanah. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Pada kebanyakan spesies, pengaruh jenis-jenis garam umumnya tidak khas terhadap tumbuhan tanaman tetapi lebih tergantung pada konsentrasi total garam.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Salinitas tidak ditentukan oleh garam Na Cl saja tetapi oleh berbagai jenis garam yang berpengaruh dan menimbulkan stres pada tanaman. Dalam konteks ini tanaman mengalami stres garam bila konsentrasi garam yang berlebih cukup tinggi sehingga menurunkan potensial air sebesar 0,05 – 0,1 Mpa. Stres garam ini berbeda dengan stres ion yang tidak begitu menekan potensial air (Lewit, dalam Sipayung, 2006).&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Toleransi terhadap salinitas adalah beragam dengan spektrum yang luas diantara spesies tanaman mulai dari yang peka hingga yang cukup toleran. Follet &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;et&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;al, &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;(1981 dalam Sipayung, 2006) mengajukan lima tingkat pengaruh salinitas tanah terhadap tanaman, mulai dari tingkat non-salin hingga tingkat salinitas yang sangat tinggi, seperti diberikan pada Tabel 1.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Tabel 1. Pengaruh Tingkat Salinitas terhadap Tanaman &lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt; &lt;/p&gt; &lt;table width="565" border="0" cellpadding="7" cellspacing="0"&gt; 	&lt;col width="113"&gt; 	&lt;col width="153"&gt; 	&lt;col width="257"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr valign="TOP"&gt; 		&lt;td width="113"&gt; 			&lt;p align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Tingkat 			Salinitas&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="153"&gt; 			&lt;p align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Konduktivitas 			(mmhos)&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="257"&gt; 			&lt;p align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Pengaruh 			Terhadap Tanaman&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;tr valign="TOP"&gt; 		&lt;td width="113"&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Non 			Salin&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="153"&gt; 			&lt;p align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;0 			– 2&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="257"&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Dapat 			diabaikan&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;tr valign="TOP"&gt; 		&lt;td width="113"&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Rendah&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="153"&gt; 			&lt;p align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;2 			– 4&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="257"&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Tanaman 			yang peka terganggu&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;tr valign="TOP"&gt; 		&lt;td width="113"&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Sedang&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="153"&gt; 			&lt;p align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;4 			– 8&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="257"&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Kebanyakan 			tanaman terganggu&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;tr valign="TOP"&gt; 		&lt;td width="113"&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Tinggi&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="153"&gt; 			&lt;p align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;8 			– 16&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="257"&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Tanaman 			yang toleran belum terganggu&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;tr valign="TOP"&gt; 		&lt;td width="113"&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Sangat 			Tinggi&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="153"&gt; 			&lt;p align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&gt; 			16&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 		&lt;td width="257"&gt; 			&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Hanya 			beberapa jenis tanaman toleran yang&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 			&lt;p align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;dapat 			tumbuh&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Kelebihan NaCl atau garam lain dapat mengancam tumbuhan karena dua alasan. Pertama, dengan cara menurunkan potensial air larutan tanah, garam dapat menyebabkan kekurangan air pada tumbuhan meskipun tanah tersebut mengandung banyak sekali air. Hal ini karena potensial air lingkungan yang lebih negatif dibandingkan dengan potensial air jaringan akar, sehingga air akan kehilangan air, bukan menyerapnya. Kedua, pada tanah bergaram, natrium dan ion-ion tertentu lainnya dapat menjadi racun bagi tumbuhan jika konsentrasinya relative tinggi. Membran sel akar yang selektif permeabel akan menghambat pengambilan sebagian besar ion yang berbahaya, akan tetapi hal ini akan memperburuk permasalahan pengambilan air dari tanah yang kaya akan zat terlarut (Campbell, 2003). &lt;/font&gt;&lt;/font&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Salinitas menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein serta penambahan biomass tanaman. Tanaman yang mengalami stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi pertumbuhan yang tertekan dan perubahan secara perlahan. Gejala pertumbuhan tanaman pada tanah dengan tingkat salinitas yang cukup tinggi adalah pertumbuhan yang tidak normal seperti daun mengering di bagian ujung dan gejala khlorosis. Gejala ini timbul karena konsentrasi garam terlarut yang tinggi menyebabkan menurunnya potensial larutan tanah sehingga tanaman kekurangan air. Sifat fisik tanah juga terpengaruh antara lain bentuk struktur, daya pegang air dan permeabilitas tanah. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Pertumbuhan sel tanaman pada tanah salin memperlihatkan struktur yang tidak normal. Penyimpangan yang terjadi meliputi kehilangan integritas membran, kerusakan lamella, kekacauan organel sel, dan akumulasi Kalsium Oksalat dalam sitoplasma, vakuola, dinding sel dan ruang antar sel. Kerusakan struktur ini akan mengganggu transportasi air dan mineral hara dalam jaringan tanaman (Maas dan Nieman, dalam Sipayung, 2006). Banyak tumbuhan dapat berespon terhadap salinitas tanah yang memadai dengan cara menghasilkan zat terlarut kompatibel, yaitu senyawa organic yang menjaga potensial air larutan tanah, tanpa menerima garam dalam jumlah yang dapat menjadi racun. Namun demikian, sebagian besar tanaman tidak dapat bertahan hidup menghadapi cekaman garam dalam jangka waktu yang lama kecuali pada tanaman halofit, yaitu tumbuhan yang toleran terhadap garam dengan adaptasi khusus seperti kelenjar garam, yang memompa garam keluar dari tubuh melewati epidermis daun (Campbell, 2003).&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Ketika terjadi cekaman lingkungan seperti kekeringan, logam berat atau salinitas, tanaman bereaksi dalam beragam cara untuk menghadapi perubahan yang berpotensi merusak. Salah satu hasil dari tekanan tersebut adalah adanya akumulasi &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;reactive oxygen species&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; (ROS) dalam tanaman, dimana hal tersebut dapat menghancurkan tanaman dan berakibat pada berkurangnya produktivitas tanaman. ROS berdampak pada fungsi seluler, seperti kerusakan pada asam nukleat atau oksidasi protein tanaman yang penting.&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;C.  Respon 	Terhadap &lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Cekaman 	Suhu&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Suhu sebagai faktor lingkungan dapat mempengaruhi produksi tanaman secara fisik maupun fisiologis. Secara fisik, suhu merupakan bagian yang dipengaruhi oleh radiasi sinar matahari dan dapat diestimasikan berdasarkan keseimbangan panas. Secara fisiologis, suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, fotosintesis, pembukaan stomata, dan respirasi. Selain itu, suhu merupakan salah satu penghambat dalam proses fisiologi untuk sistem produksi tanaman ketika suhu tanaman berada diluar suhu optim&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;al terendah maupun tertinggi&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Cekaman 	Panas&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Panas berlebihan dapat mengganggu dan akhirnya membunuh suatu tumbuhan dengan cara mendenaturasi enzim-enzimnya dan merusak metabolismenya dalam berbagai cara. Salah satu fungsi transpirasi adalah pendinginan melalui penguapan. Pada hari yang panas, misalnya temperature daun berkisar 3°C sampai 10°C di bawah suhu sekitar. Tentunya, cuaca panas dan kering juga enderung menyebabkan kekurangan air pada banyak tumbuhan; penutupan stomata sebagai respon terhadap cekaman ini akan menghemat air, namun mengorbankan pendinginan melalui penguapan tersebut. Sebagian besar tumbuhan memiliki respon cadangan yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup dalam cekaman panas Di atas suatu temperature tertentu- sekitar 40°C pada sebagian besar tumbuhan yang menempati daerah empat musim, sel-sel tumbuhan mulai mensintesis suatu protein khusus dalam jumlah yang cukup banyak yang disebut protein kejut panas (heat-shock protein). Protein kejut panas ini kemungkinan mengapit enzim serta protein lain dan membantu mencegah denaturasi (Campbell, 2003).&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Cekaman 	Dingin&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Satu permasalahan yang dihadapi tumbuhan ketika temperature lingkungan turun adalah perubahan ketidakstabilan membrane selnya. Ketika sel itu didinginkan di bawah suatu titik kritis, membrane akan kehilangan kecairannya karena lipid menjadi terkunci dalam struktur Kristal. Keadaan ini mengubah transport zat terlarut melewati membrane, juga mempengaruhi fungsi protein membrane. Tumbuhan merespon terhadap cekaman dingin dengan cara mengubah komposisi lipid membrannya. Contohnya adalah meningkatnya proporsi asam lemak tak jenuh, yang memiliki struktur yang mampu menjaga membrane tetap cair pada suhu lebih rendah dengan cara menghambat pembentukan Kristal. Modifikasi molekuler seperti itu pada membrane membutuhkan waktu beberapa jam hingga beberapa hari. Pada suhu di bawah pembekuan, Kristal es mulai terbentuk pada sebagian besar tumbuhan. Jika es terbatas hanya pada dinding sel dan ruang antar sel, tumbuhan kemungkinan akan bertahan hidup. Namun demikian, jika es mulai terbentuk di dalam protoplas, Kristal es yang tajam itu akan merobek membrane dan organel yang dapat membunuh sel tersebut. Beberapa tumbuhan asli di daerah yang memiliki musim dingin sangat dingin (seperti maple, mawar, rhodendron) memiliki adaptasi khusus yang memungkinkan mereka mampu menghadapi cekaman pembekuan tersebut. Sebagai contoh, perubahan dalam komposisi zat terlarut sel-sel hidup memungkinkan sitosol mendingin di bawah 0°C tanpa pembentukan es, meskipun Kristal es terbentuk dalam dinding sel (Campbell, 2003).&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;D.  Respon 	Terhadap Kekurangan Oksigen&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0.17in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Tumbuhan yang disiram terlalu banyak air bisa mengalami kekurangan oksigen karena tanah kehabisan ruangan udara yang menyediakan oksigen untk respirasi seluler akar (Campbell, 2003). Keadaan lingkungan kekurangan O&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;2&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; disebut hipoksia, dan keadaan lingkungan tanpa O&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;2&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/sub&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; disebut anoksia (mengalami cekaman aerasi) (Staff Lab Ilmu Tanaman, 2008). Beberapa tumbuhan secara structural diadaptasikan ke habitat yang sangat basah. Sebagai contoh, akar pohon bakau yang terendam air, yang hidup di rawa pesisir pantai, adalah sinambungan dengan akar udara yang menyediakan akses ke oksigen (Campbell, 2003).&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.17in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;E.   Respon Terhadap 	Cekaman Cahaya&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Cahaya merupakan salah satu kunci penentu dalam proses metabolisme dan fotosintesis tanaman. Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Respon tanaman terhadap cahaya berbeda-beda antara jenis satu dengan jenis lainnya. Ada tanaman yang tahan ( mampu tumbuh ) dalam kondisi cahaya yang terbatas atau sering disebut tanaman toleran dan ada tanaman yang tidak mampu tumbuh dalam kondisi cahaya terbatas atau tanaman intoleran.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Kedua kondisi cahaya tersebut memberikan respon yang berbeda-beda terhadap tanaman, baik secara anatomis maupun secara morfologis. Tanaman yang tahan dalam kondisi cahaya terbatas secara umum mempunyai ciri morfologis yaitu daun lebar dan tipis, sedangkan pada tanaman yang intoleran akan mempunyai ciri morfologis daun kecil dan tebal. Kedua kondisi tersebut akan dapat menjadi faktor penghambat pertumbuhan tanaman apabila pemilihan jenis tidak sesuai dengan kondisi lahan, artinya tanaman yang toleran ketika ditanam diareal yang cukup cahaya justru akan mengalami pertumbuhan yang kurang baik, begitu juga dengan tanaman intolean apabila di tanam pada areal yang kondisi cahaya terbatas pertumbuhan akan mengalami ketidak normalan. Dengan demikian pemilihan jenis berdasarkan pada sifat dasar tanaman akan menjadi kunci penentu dalam keberhasilan pembuatan tanaman.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Berikut ini adalah perbedaan Tanaman Toleran ( Shade leaf) Vs Intoleran ( Sun Leaf) menurut Silvika (2009).&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;1.  Tumbuhan cocok ternaung menunjukkan laju fotosintesis yang sangat rendah pada intensitas cahaya tinggi dibanding tumbuhan cocok terbuka.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;2.   Laju fotosintesis tumbuhan cocok ternaung mencapai titik jenuh pada intensitas cahaya yang lebih rendah dibanding tumbuhan cocok terbuka.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;3.  Laju fotosintesis tumbuhan cocok ternaung lebih tinggi dibanding tumbuhan cocok terbuka pada intensitas cahaya yang sangat rendah.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;4.  Titik kompensasi cahaya untuk tumbuhan cocok ternaung lebih rendah dibanding tumbuhan cocok terbuka.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="6" type="A"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.17in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;"&gt; 	&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Respon Terhadap 	Herbivora&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Herbivora adalah suatu cekaman yang diahadapi tumbuhan dalam setiap ekosistem. Tumbuhan menghadapi herbivore yang begitu banyak baik dengan pertahanan fisik, seperti duri, maupun pertahanan kimia, seperti produksi senyawa yang tidak enak atau bersifat toksik. Sebagai contoh beberapa tumbuhan menghasilkan suatu asam amino yang tidak umum yang disebut kanavanin yang dinamai berdasarkan salah satu sumbernya, &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;jackbean (Cannavalia ensiformis)&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Kanavanin mirip arginin. Jika suatu serangga memakan tumbuhan yang mengandung kanavanin, molekul itu bergabung dengan protein serangga di tempat yang biasanya ditempati oleh arginin, yang dapat menyebabkan matinya serangga tersebut (Campbell, 2003).&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;meta http-equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.1  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 		A:link { color: #0000ff; so-language: zxx } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="CENTER"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="CENTER"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Campbell, at al. 2003. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Biologi Jilid 2&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Jakarta: Erlangga.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Dharmawan, Agus. 2005. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Ekologi Hewan&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Malang: UM Press.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Fallah, Affan Fajar. 2006. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;span lang="zxx"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;http://io.ppi jepang.org&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Haryati. 2008. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt; &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;span lang="zxx"&gt;&lt;a href="http://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanian-haryati2.pdf"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;http://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanian-haryati2.pdf&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Hidayat. 2002. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Cekaman Pada Tumbuhan. &lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;http://www.scribd.com/document_downloads/ 13096496?extension=pdf&amp;amp;secret_password=. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Lakitan, Benyamin. 1996. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Petani Wahid. 2006&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Cekaman Lingkungan Abiotik pada Lahan-Lahan Marginal&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;span lang="zxx"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;http://petani wahid.blogspot.com/2008/08/tanah-tantangan-bertani-di-indonesia.html&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Silvika. 2009. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Cekaman Cahaya&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;span lang="zxx"&gt;&lt;a href="http://silvika.atspace.com/acara3.htm"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;http://silvika.atspace.com/acara3.htm&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Sinaga. 2008. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Peran Air Bagi Tanaman&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;span lang="zxx"&gt;&lt;a href="http://puslit.mercubuana.ac.id/file/8Artikel%20%20Sinaga.pdf"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;http://puslit.mercubuana.ac.id/file/8Artikel %20Sinaga.pdf&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%; color: rgb(51, 51, 255);" align="JUSTIFY"&gt; &lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Sipayung, Rosita. 2006. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;i&gt;Cekaman Garam&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;span lang="zxx"&gt;&lt;a href="http://library.usu.ac.id/download/fp/bdp-rosita2.pdf"&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;http://library.usu.ac.id/download/fp/bdp-rosita2.pdf&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;font face="Times New Roman, serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116366193904730371-4244351641017595569?l=epta86.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://epta86.blogspot.com/feeds/4244351641017595569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116366193904730371&amp;postID=4244351641017595569&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/4244351641017595569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/4244351641017595569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://epta86.blogspot.com/2009/07/cekaman-pada-tumbuhan.html' title='Cekaman pada Tumbuhan'/><author><name>duniaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14316567180501072898</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnGD1jHT--I/AAAAAAAAAAw/hCXEE8T6k24/S220/428066087_c040af4b77_o%5B1%5D.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnF9h4d1XnI/AAAAAAAAAAc/YDGTbCzMOKs/s72-c/tolerance.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116366193904730371.post-8397837651301131891</id><published>2009-07-03T19:38:00.000+08:00</published><updated>2009-07-23T19:01:12.590+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Minggu Ini'/><title type='text'>Katabolisme</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold; font-family: times new roman;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;A.    Latar Belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Semua organisme membutuhkan penyediaan materi dan energi yang tetap dari lingkungannya agar tetap hidup. Bagi sejumlah besar organisme, penyediaan utama materi dan satu-satunya penyediaan energi berasal dari molekul organik yang dimakannya (Kimball: 2003: 143). Dengan bantuan enzim, sel secara sistematik merombak molekul organik kompleks yang kaya akan energi potensial menjadi produk limbah yang berenergi lebih rendah. Sebagian energi yang diambil dari simpanan kimiawi dapat dilakukan untuk melakukan kerja; sisanya dilepas sebagai panas. Jalur metabolisme yang melepaskan energi simpanan dengan cara memecah molekul kompleks disebut jalur katabolik (Campbell, 2003: 159). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Jalur katabolik dapat terjadi secara aerob (dengan menggunakan oksigen) dan anaerob (tanpa menggunakan oksigen). Terdapat tiga tahap utama di dalam katabolisme aerobik, yaitu makromolekul sel dipecahkan menjadi unit-unit pembangun utamanya (tahap I), produk yang telah terbentuk pada tahap I selanjutnya diubah menjadi molekul yang lebih sederhana (tahap II), produk akhir dari tahap II yang berupa asetil KoA selanjutnya memasuki lintas akhir (tahap III). Pada tahap akhir ini, terjadi oksidasi nutrien, menghasilkan karbon dioksida, air dan amonia sebagai produk akhirnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Penguraian enzimatik dari masing-masing nutrien penghasil utama energi utama pada sel (karbohidrat, lipid, dan protein) berlangsung secara bertahap melalui sejumlah reaksi enzimatik yang berurutan dan berbeda antara satu nutrien dengan nutrien lainnya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas mengenai proses katabolisme nutrien penghasil utama pada sel dalam makalah ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;B.    Rumusan Masalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;1.    Apakah pengertian dari katabolisme?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;2.    Tahap-tahap apa sajakah yang terdapat dalam proses katabolisme karbohidrat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;3.    Tahap-tahap apa sajakah yang terdapat dalam proses glikolisis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;4.    Tahap-tahap apakah yang terdapat dalam siklus asam sitrat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;5.    Bagaimana proses katabolisme pada protein dan lipid?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;C.    Tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;1.    Mengetahui pengertian katabolisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;2.    Mengetahui tahap-tahap yang terdapat dalam proses katabolisme karbohidrat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;3.    Mengetahui tahap-tahap yang terdapat dalam proses glikolisis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;4.    Mengetahui tahap-tahap yang terdapat dalam siklus asam sitrat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;5.    Mengetahui proses katabolisme pada protein dan lipid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;D.    Manfaat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;1.    Untuk memberikan gambaran tentang proses katabolisme yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;2.    Sebagai bahan masukan untuk memperluas dan memperdalam pemahaman tentang reaksi-reaksi dalam tubuh makhluk hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;3.    Sebagai referensi bagi karya ilmiah yang relevan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;A.    Pengertian Katabolisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Menurut Lehninger (2005: 10), katabolisme merupakan fase metabolisme yang bersifat menguraikan, yang menyebabkan molekul organik nutrien seperti karbohidrat, lipid, dan protein yang datang dari lingkungan atau dari cadangan makanan sel itu sendiri terurai di dalam reaksi-reaksi bertahap menjadi produk akhir yang lebih kecil dan sederhana, seperti asam laktat, CO2, dan amonia. Katabolisme diikuti oleh pelepasan energi bebas yang telah tersimpan di dalam struktur kompleks molekul organik yang lebih besar tersebut. Pada tahap-tahap tertentu di dalam lintas katabolik, banyak dari energi bebas ini yang disimpan melalui reaksi-reaksi enzimatik yang saling berkaitan, di dalam bentuk molekul pembawa energi adenosine trifosfat (ATP). Sejumlah energi mungkin tersimpan di dalam atom hidrogen berenergi tinggi yang dibawa oleh koenzim nikotinamida adenine dinukleotida fosfat dalam bentuk tereduksinya, yaitu NAHPD. Katabolisme disebut pula desimilasi (Pratiwi, 2006: 15). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;B.    Katabolisme Karbohidrat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Walaupun karbohidrat, lemak, dan protein semuanya dapat diproses dan dikonsumsi sebagai bahan kabar, kita terbiasa untuk mempelajari langkah-langkah respirasi seluler dengan menelusuri perombakan gula glukosa (C6H12O6) (Campbell, 2003: 160). Pembakaran glukosa memerlukan oksigen. Tetapi beberapa sel harus hidup dimana tidak ada atau tidak selalu terdapat oksigen. Sebagai contoh, sel-sel ragi di dalam botol yang tertutup tidak mendapat oksigen. Akan tetapi, semua sel mempunyai peralatan enzimatik untuk mengkatabolis glukosa tanpa bantuan oksigen (Kimball, 2003: 144). Perombakan anarobik (tanpa oksigen) disebut fermentasi. Sedangkan perombakan secara aerobik (menggunakan oksigen) disebut respirasi sel. Tetapi meskipun sel melangsungkan respirasi glukosa dan tidak melakukan fermentasi, langkah-langkah permulaannya tetap sama: langkah-langkah glikolisis. Adapun langkah-langkah katabolisme gula glukosa dapat diuraikan sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;1.    Glikolisis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Glikolisis berasal dari kata Yunani yang berarti “gula” dan “pelarutan”. Glikolisis merupakan suatu proses penguraian molekul glukosa yang memiliki 6 atom karbon, secara enzimatik, untuk menghasilkan dua molekul piruvat, yang memiliki 3 atom karbon. Selama reaksi-reaksi glikolisis yang berurutan, banyak energi bebas yang diberikan oleh glukosa yang disimpan dalam bentuk ATP (Lehninger, 2005: 73).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Proses glikolisis dimulai dengan molekul glukosa dan diakhiri dengan terbentuknya asam laktat. Serangkaian reaksi-reaksi dalam proses glikolisis tersebut dinamakan juga jalur Embden-Meyerhof (Poedjiadi, 1994: 255). Glikolisis terjadi tanpa memandang ada atau tidaknya oksigen molekuler (O2) (Campbell, 2003: 168). Jalur katabolik glikolisis terdiri atas sepuluh langkah, yang masing-masing dikatalisis oleh enzim spesifik. Kita dapat membagi kesepuluh langkah ini menjadi dua fase, yaitu fase investasi energi yang mencakup lima langkah pertama dan fase pembayaran energi yang mencakup lima langkah berikutnya (Campbell, 2003: 165). Adapun langkah-langkah glikolisis dapat dilihat pada bagan berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada tahap pertama, molekul D-Glukosa diaktifkan bagi reaksi berikutnya dengan fosforilasi pada posisi 6, menghasilkan glukosa-6-fosfat dengan memanfaatkan ATP (Gambar 2). Reaksi ini bersifat tidak dapat balik. Enzim heksokinase merupakan katalis dalam reaksi tersebut dibantu oleh ion Mg2+ sebagai kofaktor. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Reaksi berikutnya ialah isomerasi, yaitu pengubahan glukosa-6-fosfat, yang merupakan suatu aldosa, menjadi fruktosa-6-fosfat, yang merupakan suatu ketosa, dengan enzim fosfoglukoisomerase dan dibantu oleh ion Mg2+. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada tahap ini fruktosa-6-fosfat diubah menjadi fruktosa-1,6-difosfat oleh enzim fosoffruktokinase dibantu oleh ion Mg2+ sebagai kofaktor. Dalam reaksi ini, gugus fosfat dipindahkan dari ATP ke fruktosa-6-fosfat pada posisi 1.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Reaksi tahap keempat dalam rangkaian reaksi glikolisis adalah penguraian molekul fruktosa-1,6-difosfat membentuk dua molekul triosa fosfat, yaitu dihidroksi aseton fosfat dan D-gliseraldehid-3-fosfat oleh enzim aldolase fruktosa difosfat atau enzim aldolase. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Hanya satu di antara dua triosa fosfat yang dibentuk oleh aldolase, yaitu gliseraldehid-3-fosfat, yang dapat langsung diuraikan pada tahap reaksi glikolisis berikutnya. Tetapi, dihidroksi aseton fosfat dapat dengan cepat dan dalam reaksi dapat balik, berubah menjadi gliseraldehid-3-fosfat oleh enzim isomerase triosa fosfat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Tahap selanjutnya adalah reaksi oksidasi gliseraldehid-3fosfat menjadi asam 1,3 difosfogliserat. Dalam reaksi ini digunakan koenzim NAD+, sedangkan gugus fosfat diperoleh dari asam fosfat. Enzim yang mengkatalisis dalam tahap ini adalah dehidrogenase gliseraldehida fosfat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada tahap ini, enzim kinase fosfogliserat mengubah asam 1,3-difosfogliserat menjadi asam 3-fosfogliserat. Dalam reaksi ini terbentuk satu molekul ATP dari ADP dan memerlukan ion Mg2+ sebagai kofaktor. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada tahap ini, terjadi pengubahan asam 3-fosfoliserat menjadi asam 2-fosfogliserat. Reaksi ini melibatkan pergeseran dapat balik gugus fosfat dari posisi 3 ke posisi 2. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim fosfogliseril mutase dengan ion Mg2+ sebagai kofaktor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Reaksi berikutnya adalah reaksi pembentukan asam fosfoenolpiruvat dari asam 2-fosfogliserat dengan katalisis enzim enolase dan ion Mg2+ sebagai kofaktor. Reaksi pembentukan asam fosfoenol piruvat ini ialah reaksi dehidrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Tahap terakhir pada glikolisis ialah reaksi pemindahan gugus fosfat berenergi tinggi dari fosfoenolpiruvat ke ADP yang dikatalisis oleh enzim piruvat kinase sehingga terbentuk molekul ATP dan molekul asam piruvat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Glikolisis melepaskan energi kurang dari seperempat energi kimiawi yang tersimpan dalam glukosa; sebagian besar energi itu tetap tersimpan dalam dua molekul piruvat (Campbell, 2003: 168). Terdapat tiga jalur penting yang dapat dilalui oleh piruvat setelah glikolisis. Pada organism aerobik, glikolisis menyususun hanya tahap pertama dari keseluruhan degradasi aerobik glukosa menjadi CO2 dan H2O. Lintas piruvat ke dua adalah reduksinya menjadi laktat, jika jaringan hewan dalam keadaan anaerobik, terutama pada kontraksi aktif otot kerangka.Lintas piruvat utama yang ketiga menyebabkan pembentukan etanol (Lehninger, 2005: 73-74).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;2.    Siklus Asam Sitrat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Karbohidrat, asam lemak, dan hamper semua asam amino, akhirnya dioksidasi menjadi CO2 dan H2O melalui siklus asam sitrat (Lehninger, 2005: 115). Siklus asam sitrat adalah serangkaian reaksi kimia dalam sel, yaitu pada mitokondria, yang berlangsung secara berurutan dan berulang, bertujuan untuk mengubah asam piruvat menjadi CO2, H2O dan sejumlah energi. Proses ini adalah proses oksidasi dengan menggunakan oksigen atau aerob. Siklus asam sitrat ini disebut juga siklus Krebs, menggunakan nama Hans Krebs, seorang ahli biokimia yang banyak jasa atau sumbangannya dalam penelitian tentang metabolisme karbohidrat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Setelah memasuki mitokondria, piruvat mula-mula diubah menjadi suatu senyawa yang disebut asetil CoA. Langkah ini merupakan persambungan antara glikolisis dan siklus Krebs, yang diselesaikan oleh kompleks multi enzim yang mengkatalisis tiga reaksi: (1) Gugus karboksil piruvat, yang memiliki sedikit energi kimiawi, dikeluarkan dan dilepas sebagai molekul CO2, (2) Fragmen berkarbon dua yang tersisa dioksidasi untuk membuat senyawa yang dinamai asetat. Suatu enzim mentransfer elektron yang diekstraksi ke NAD+, dan menyimpan energi dalam bentuk NADH, (3) Akhirnya, koenzim A, senyawa mengandung sulfur turunan dari vitamin B, diikatkan pada asetat tadi oleh ikatan tak stabil yang membuat gugus asetil sangat reaktif (Campbell, 2003: 168). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Gabungan dehidrogenasi dan dekarboksilasi piruvat menjadi asetil KoA melibatkan kerja tiga enzim yang berbeda secara berurutan, yaitu piruvat dehidrogenase (E1), dihidrolipoil transasetilase (E2), dan dihidrolipoil dehidrogenase (E3), dan juga lima koenzim atau gugus prostetik yang berbeda, tiamin pirofosfat (PPP), flavin adenine dinukleotida (FAD), koenzim A (CoA), nikotinamida adenin dinukleotida (NAD+), dan asam lipoat (Lehninger, 2005: 116). Tahapan pembentukan asetil CoA dari asam piruvat dapat dilihat pada bagan berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Reaksi pertama pada siklus Krebs adalah pembentukan asam sitrat dari asetil KoA dengan asam oksaloasetat dengan cara kondensasi. Enzim yang bekerja sebagai katalis adalah sitrat sintetase. Pada reaksi ini, karbon meil gugus asetil dari asetil KoA berkondensasi dengan gugus karbonil pada oksaloasetat; secara serentak, ikatan tioester dipecahkan untuk membebaskan koenzim A.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Asam sitrat kemudian diubah menjadi asam isositrat melalui asam akonitat. Enzim yang bekerja pada reaksi ini ialah akonitase. Pada reaksi ini, satu molekul air dikeluarkan dan yang lain ditambahkan kembali. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada tahap selanjutnya, asam isositrat diubah menjadi menjadi asam oksalosuksinat oleh enzim isositrat dehidrogenase dengan koenzim NADP+, kemudian diubah lebih lanjut menjadi asam a-ketoglutarat oleh enzim karboksilase. Pada reaksi yang kedua ini dihasilkan pula CO2. Untuk 1 mol asam isositrat yang diubah dihasilkan 1 mol NADPH dan 1 mol CO2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada tahap selanjutnya, a-ketoglutarat mengalami dekarboksilasi oksidatif, membentuk suksinil KoA dan CO2 oleh kerja kompleks a-ketoglutarat dehidrogenase. Raksi ini analog dengan reaksi pembentukan asetil KoA dari asam piruvat. Koenzim TPP dan NAD+ diperlukan juga dalam reaksi pembentukan suksinil KoA. Reaksi ini menghasilkan Suksinil KoA dan melepaskan CO2 da NADH.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Asam suksinat terbentuk dari suksinil KoA dengan cara melepaskan koensim A serta pembentukan guanosin trifosfat (GTP) dari guanosin difosfat (GDP). Enzim suksinil KoA sintetase bekerja pada reaksi yang bersifat reversible ini. Gugus fosfat yang terdapat pada molekul GTP segera dipindahkan kepada ADP. Katalis dalam reaksi ini adalah dinukleosida difosfokinase.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada tahap ini, asam suksinat diubah menjadi asam fumarat melalui proses oksidasi dengan menggunakan enzim suksinat dehidrogenase dan FAD sebagai koenzim. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Asam malat terbentuk dari asam fumarat dengan cara adisi molekul air. Enzim fumarat hidratase atau yang lebih dikenal dengan nama enzim fumarase, bekerja sebagai katalis dalam reaksi ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Tahap akhir dalam siklus asam sitrat ialah dehidrogenasi asam malat untuk membentuk asam oksaloasetat yang dikatalisis oleh enzim malat dehidrogenase. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Oksaloasetat yang terjadi kemudian bereaksi dengan asetil koenzim A dan asam sitrat yang terbentuk bereaksi lebih lanjut dalam siklus asam sitrat. Demikian reaksi-reaksi tersebut di atas berlangsung terus menerus dan berulang kali. Tahap-tahap dalm siklus Krebs ini dapat digambarkan sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;3.    Rantai Transpor Elektron&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada sistem transpor elektron, berlangsung pengepakan energi dari glukosa menjadi ATP. Reaksi ini terjadi di dalam membrane dalam mitokondria. Hidrogen dari siklus Krebs yang tergabung dalam FADH2 dan NADH diubah menjadi elektron dan proton. Sebagai pembawa elektron adalah sejenis protein dan gugus yang dapat berkaitan dengan protein. Golongan ini mencakup NAD, FAD, ubikuinon, dan protein sitokrom. Pada sistem transpor elektron ini, oksigen adalah akseptor elektron terakhir. Setelah menerima elektron, O2 akan bereaksi dengan H+ membentuk H2O (Pratiwi, 2006: 32).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;4.    Fermentasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Katabolisme anaerobik dari nutrien organik dapat terjadi dengan fermentasi. Fermentasi terdiri atas glikolisis ditambah dengan reaksi yang menghasilkan NADH ke piruvat. Terdapat banyak jenis fermentasi, perbedaannya dalam produk limbahnya yang terbentuk dari piruvat. Dua jenis yang umum ialah fermentasi alkohol dan fermentasi asam laktat (Campbell, 2003: 174). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;a.    Fermentasi Alkohol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada fermentasi alkohol, piruvat diubah menjadi etanol (etil alkohol) dalam dua langkah. Langkah pertama, melepaskan karbon dioksida dari piruvat, yang diubah menjadi senyawa asetaldehida berkarbon dua. Dalam langkah kedua, asetaldehida direduksi oleh NADH menjadi etanol. Ini meregenerasi pasokan NAD+ yang dibutuhkan untuk glikolisis. Fermentasi alkohol oleh ragi, digunakan dalam pembuatan bir dan anggur. Banyak bakteri juga melakukan fermentasi alkohol dalam kondisi anaerobik (Campbell, 2003: 174).  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;b.    Fermentasi Asam Laktat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada fermentasi asam laktat, piruvat direduksi langsung oleh NADH untuk membentuk laktat sebagai produk limbahnya, tanpa melepas CO2 (Campbell, 2003: 174). Fermentasi asam laktat dapat terjadi pada fungi atau bakteri. Selain itu, fermentasi asam laktat juga dapat terjadi pada otot-otot yang bekerja terlalu berat, yang oksigennya tidak cukup untuk respirasi sel (Kimball, 2003: 150).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;C.    Katabolisme Protein&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Tahap awal metabolisme asam amino melibatkan pelepasan gugus amino, kemudian baru perubahan kerangka karbon pada molekul asam amino. Dua proses utama pelepasan gugus amino, yaitu 1) transaminasi, yaitu proses katabolisme asam amino yang melibatkan gugus amino dari satu asam amino kepada asam amino lain, 2) deaminasi oksidatif yang menggunakan enzim dehidrogenase sebagai katalis (Poedjiadi, 1994: 301-302).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada gambar berikut terlihat bahwa kerangka karbon dari 10 asam amino menghasilkan asetil KoA, yang laangsung memasuki siklus asam sitrat. Lima dari sepuluh asam amino diuraikan menjadi asetil KoA melalui piruvat. Kelima asam amino yang masuk melalui piruvat adalah alanin, sistein, glisin, serin, dan treonin. Sedangkan lima lainnya, yaitu asam amino fenilalanin, tirosin, lisin, tritofan, dan leusin sebagian karbon asam aminonya menghasilkan asetoasetil KoA, yang lalu diubah menjadi asetil KoA. Kerangka karbon metionin, isoleusin, dan valin lambat laun terdegradasi oleh lintas yang menghasilkan suksinil KoA, senyawa antara siklus asam sitrat. Fenilalanin dan tirosin masing-masing menghasilkan dua produk dengan 4 karbon, yaitu asetoasetat dan fumarat. Asetoasetat memasuki siklus asam sitrat dalam bentuk asetil KoA. Kerangka karbon asparagin dan asam aspartat pada akhirnya memasuki siklus asam sitrat melalui oksaloasetat (Lehninger, 2005: 225, 226, 232, 233, 234).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt; Asam amino dihasilkan dari proses hidrolisis protein. Setelah gugus amino dari asam amino dilepas, beberapa asam amino diubah menjadi asam piruvat dan ada juga diubah menjadi asetil koenzim A. Gugus amino yang dilepas dari asam amino dibawa ke hati untuk diubah menjadi amoniak (NH3) dan dibuang lewat urine, 1 gram protein menghasilkan energi yang sama dengan 1 gram karbohirat (Anonim, 2009).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;D.    Katabolisme Lipid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi jangka panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat barulah asam lemak dioksidasi. Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA. Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi (Nugroho, 2009). Lebih lanjut Nugroho menguraikan proses metabolisme asam lemak sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;1.    Katabolisme Gliserol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Gliserol sebagai hasil hidrolisis lipid (trigliserida) dapat menjadi sumber energi. Gliserol ini selanjutnya masuk ke dalam jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis. Pada tahap awal, gliserol mendapatkan 1 gugus fosfat dari ATP membentuk gliserol 3-fosfat. Selanjutnya senyawa ini masuk ke dalam rantai respirasi membentuk dihidroksi aseton fosfat, suatu produk antara dalam jalur glikolisis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;2.    Oksidasi Asam Lemak (Oksidasi Beta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sebelum dikatabolisir dalam oksidasi beta, asam lemak harus diaktifkan terlebih dahulu menjadi asil-KoA. Dengan adanya ATP dan Koenzim A, asam lemak diaktifkan dengan dikatalisir oleh enzim asil-KoA sintetase (Tiokinase).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt; Asam lemak bebas pada umumnya berupa asam-asam lemak rantai panjang. Asam lemak rantai panjang ini akan dapat masuk ke dalam mitokondria dengan bantuan senyawa karnitin. Langkah-langkah masuknya asil KoA ke dalam mitokondria dijelaskan sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;a.    Asam lemak bebas (FFA) diaktifkan menjadi asil-KoA dengan dikatalisir oleh enzim tiokinase.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;b.    Setelah menjadi bentuk aktif, asil-KoA dikonversikan oleh enzim karnitin palmitoil transferase I yang terdapat pada membran eksterna mitokondria menjadi asil karnitin. Setelah menjadi asil karnitin, barulah senyawa tersebut bisa menembus membran interna mitokondria.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;c.    Pada membran interna mitokondria terdapat enzim karnitin asil karnitin translokase yang bertindak sebagai pengangkut asil karnitin ke dalam dan karnitin keluar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;d.    Asil karnitin yang masuk ke dalam mitokondria selanjutnya bereaksi dengan KoA dengan dikatalisir oleh enzim karnitin palmitoiltransferase II yang ada di membran interna mitokondria menjadi Asil Koa dan karnitin dibebaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;e.    Asil KoA yang sudah berada dalam mitokondria ini selanjutnya masuk dalam proses oksidasi beta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pada proses oksidasi beta, asam lemak masuk ke dalam rangkaian siklus dengan 5 tahapan proses dan pada setiap proses, diangkat 2 atom C dengan hasil akhir berupa asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA masuk ke dalam siklus asam sitrat. Menurut Poedjiadi (1994: 279-280), tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;a.    Pembentukan asil KoA dari asam lemak berlangsung dengan katalis enzim asil KoA sintetase yang disebut juga tiokinase.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;b.    Reaksi kedua adalah reaksi pembentukan enoil KoA dengan cara oksidasi. Enzim asil KoA dehidrogenase berperan sebagai katalis dalam reaksi ini. Koenzim yang dibutuhkan dalam reaksi ini adalah FAD yang berperan sebagai akseptor hydrogen. Dua molekul ATP dibentuk untuk tiap pasang electron yang ditransportasikan dari molekul FADH2 melalui sistem transport electron.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;c.    Pada reaksi ketiga, enzim enoil KoA hidratase merupakan katalis yang menghasilkan L-hidroksiasil KoA. Reaksi ini ialah reaksi hidrasi terhadap ikatan rangkap anatar C-2 dan C-3.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;d.    Reaksi keempat adalah reaksi oksidasi yang mengubah hidroksiasil koenzim A menjadi ketoasil koenzim A. Enzim L-hidrokdiasil koenzim A dehidrogenase melibatkan NAD yang direduksi menjadi NADH.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;e.    Tahap kelima adalah reaksi pemecahan ikatan C-C, sehingga menghasilkan aseil koenzim A dan asil koenzim A yang mempunyai jumlah atom C dua buah lebih pendek dari molekul semula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Asil KoA yang terbentuk pada reaksi tahap 5, mengalami metabolisme lebih lanjut melalui reaksi tahap 2 hingga tahap 5 dan demikian seterusnya sampai rantai C pada asam lemak terpecah menjadi molekul-molekul asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA dapat teroksidasi menjadi CO2 dan H2O melalui siklus asam sitrat (Poedjiadi, 1994: 282). Asetil KoA yang dihasilkan dari oksidasi asam lemak tidak berbeda dengan asetil KoA yang dibentuk dari piruvat (Lehninger, 2005: 204). Tahapan-tahapan dalam oksidasi asam lemak ini dapat dilihat pada gambar 27 berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold; font-family: times new roman;"&gt;BAB III&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;1.    Katabolisme (desimiliasi) merupakan fase metabolisme yang bersifat menguraikan, yang menyebabkan molekul organik nutrien terurai di dalam reaksi-reaksi bertahap menjadi produk akhir yang lebih kecil dan sederhana, seperti asam laktat, CO2, dan amonia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;2.    Katabolisme karbohidrat, khususnya glukosa terdiri atas tahap glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus asam sitrat, dan rantai transpor elektron pada kondisi aerob. Sedangkan pada kondisi anaerob, katabolisme glukosa berupa fermentasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;3.    Proses glikolisis dimulai dengan molekul glukosa dan diakhiri dengan terbentuknya asam laktat. Dalam proses glikolisis terdiri atas 10 tahapan reaksi yang dikatalisis oleh enzim spesifik. Kesepuluh tahapan dalam glikolisis dapat dibagi menjadi dua fase, yaitu fase investasi energi dan fase pembayaran energi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;4.    Tahapan-tahapan yang terdapat dalam siklus asam sitrat adalah (a) pembentukan asam sitrat dari asetil KoA dengan asam oksaloasetat, (b) pembentukan asam isositrat oleh enzim akonitase, (c) pembentukan asam a-ketoglutarat oleh enzim karboksilase, (d) a-ketoglutarat mengalami dekarboksilasi oksidatif, membentuk suksinil KoA oleh enzim a-ketoglutarat dehidrogenase, (e) asam suksinat terbentuk dari suksinil KoA oleh enzim suksinil KoA sintetase, (f) pembentukan asam fumarat dengan menggunakan enzim suksinat dehidrogenase, (g) pembentukan asam malat oleh enzim fumarase, (h) pembentukan asam oksaloasetat oleh enzim malat dehidrogenase, (i) pembentukan a-ketoglutarat oleh enzim karboksilase.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;5.    Katabolisme protein diawali dengan tahap transaminasi dan deaminasi oksidatif. Setelah gugus amino dari asam amino dilepas, beberapa asam amino diubah menjadi asam piruvat dan ada juga diubah menjadi asetil koenzim A. Gugus amino yang dilepas dari asam amino dibawa ke hati untuk diubah menjadi amoniak (NH3) dan dibuang lewat urine. Sedangkan katabolisme lemak dimulai dengan pemecahan lemak menjadi gliserol dan asam lemak. Gliserol dirubah menjadi gliseral dehid 3-fosfat dan selanjutnya mengikuti jalur glikolisis sehingga terbentuk piruvat. Sedangkan asam lemak dapat dipecah menjadi molekul-molekul dengan 2 atom C. Molekul dengan 2 atom C ini kemudian diubah menjadi asetil koenzim A.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Anonim. 2009. Katabolisme. http://www.webng.com/spons/katabolisme.html. Diakses pada tanggal Senin, 29 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Aprilia. 2009. Metabolisme Asam Amino. http://www. http://www.scribd.com/document_downloads/8216443?extension=pdf&amp;amp;secret_password=. Diakses pada tanggal Senin, 29 Juni 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Campbell, dkk. 2003. Biology Jilid I. Jakarta: Erlangga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Kimball, dkk. 2003. Biology Jilid I. Jakarta: Erlangga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Lehninger. 2005. Dasar-dasar Biokimia Jilid 2. Jakarta: Erlangga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Nugroho. 2009. Respirasi Seluler. http://biodas.files.wordpress.com/2007/09/04-respirasi-sel.ppt. Diakses pada tanggal Senin, 29 Juni 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Nuringtyas, Tri Rini. 2009. Metabolisme Karbohidrat. http://elisa.ugm.ac.id/files/chimera73/uJTdO7NM/Metabolisme%20KH%20(ok).ppt. Diakses pada tanggal Senin, 29 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116366193904730371-8397837651301131891?l=epta86.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://epta86.blogspot.com/feeds/8397837651301131891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116366193904730371&amp;postID=8397837651301131891&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/8397837651301131891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/8397837651301131891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://epta86.blogspot.com/2009/07/bab-i-pendahuluan.html' title='Katabolisme'/><author><name>duniaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14316567180501072898</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnGD1jHT--I/AAAAAAAAAAw/hCXEE8T6k24/S220/428066087_c040af4b77_o%5B1%5D.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8116366193904730371.post-1629544006143457692</id><published>2009-07-03T19:29:00.001+08:00</published><updated>2009-08-03T18:51:48.322+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ArtikelQ'/><title type='text'>Think Pair and Share</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peningkatan Motivasi,  Aktivitas,  Dan Hasil Belajar Biologi Siswa Melalui Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Think-Pair And Share (TPS) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Siswa Kelas VIII1  SMP Negeri 30 Makassar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(The Improvement of The Students’ Motivation, Activities, and Learning Achievement through The Application of  Cooperative Learning Think Pair and Share (TPS) Type &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;of  VIII1 Class Student of SMP Negeri 30 Makassar) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Eka Pratiwi Tenriawaru&lt;br /&gt;Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Makassar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar biologi siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think, Pair and Share. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar semester ganjil tahun pelajaran 2008/2009 yang terdiri dari 48 siswa. Pelaksanaan penelitian ini terdiri atas dua siklus dan data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think, pair and share merupakan suatu strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar. Peningkatan tersebut ditunjukkan oleh hasil penelitian dari siklus I ke siklus II, yaitu (1) Rata-rata nilai motivasi siswa meningkat dari 77,21 ke 84,18 atau dari kategori baik menjadi baik sekali. (2) Aktivitas siswa menunjukkan peningkatan dalam bertanya, menjawab, dan menanggapi dalam kegiatan diskusi. (3) Rata-rata nilai hasil belajar siswa meningkat dari 58,33 ke 73,25 atau dari kategori cukup ke kategori baik dan peningkatan persentase siswa yang tuntas dari 33,33% ke 77,08%.&lt;br /&gt;Kata Kunci: motivasi, aktivitas, hasil belajar biologi, model pembelajaran kooperatif tipe think, pair and share (TPS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstract&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This research is Classroom Action Research (CAR) that aim is to improve motivation, activities, and learning achievement of the students in learning biology. This subject research is VIII1 class students of  SMP Negeri 30 Makassar in the first semester in the academic year 2008/2009 that consist of 48 students. The research carried out with two cycles and the data obtained through qualitative and quantitative analyses. The result indicate that the application of the cooperative learning think, pair and share (TPS) type is an effective learning strategy to improve motivation, activities, and learning achievement of the students in VIII1 class in learning biology. It can be seen the result from the first cycle to the second one, that are: 1) The mean of students’ learning motivation increase from 77,21 to 84,18 or in good category to a very good one. 2) The activities of students seemed increase in asking, answering, and giving responses discussing activities. 3) The mean of learning achievement increase from 58,33 to 73,25 or from enough category to good category and the students’ learning achievement percentage increase from 33,33% to 77,08%.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Key words:  motivation, activities, and learning achievement, cooperative learning think pair and share (TPS) type.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A.    Pendahuluan&lt;br /&gt;Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan, tentunya tidak terlepas dari proses pendidikan yang terkait dengan kegiatan belajar mengajar di kelas. Sebagai tenaga pengajar dan pendidik yang secara langsung terlibat dalam proses belajar mengajar, guru memegang peran penting dalam mengarahkan siswa mencapai hasil belajar yang maksimal. Salah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh guru biologi adalah bagaimana mengajarkan konsep biologi dengan baik, dalam hal ini adalah memilih model pembelajaran yang relevan dengan kompetensi dasar.&lt;br /&gt;Pembelajaran biologi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diharapkan berorientasi pada keterampilan proses. Oleh karena itu, peran aktif siswa sangat diharapkan dalam proses pembelajaran. SMPN 30 Makassar adalah sekolah yang telah menerapkan KTSP. Akan tetapi, penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan KTSP belum sepenuhnya terlaksana. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di sekolah tersebut terlihat bahwa kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru sementara siswa hanya berperan sebagai pendengar sehingga interaksi antara guru dan siswa maupun antar siswa berkurang sehingga sebagian besar siswa kesulitan mempelajari materi biologi dan cenderung menganggap mata pelajaran biologi sebagai mata pelajaran hapalan yang membosankan.&lt;br /&gt;Materi sistem pencernaan makanan pada manusia merupakan salah satu materi dalam pelajaran biologi yang cukup kompleks. Materi ini memuat teori dan konsep-konsep dasar tentang struktur dan fungsi organ-organ pencernaan dalam tubuh manusia, serta proses pencernaan yang terjadi dalam tubuh manusia yang menuntut pemahaman, daya khayal, dan interaksi antar siswa yang besar. Kondisi pembelajaran di SMPN 30 Makassar seperti yang digambarkan di atas, menyebabkan sebagian besar siswa kesulitan mempelajari dan menganggap materi tersebut membosankan. Akibatnya motivasi dan aktivitas siswa menurun dan menyebabkan banyak siswa yang tidak tuntas pada materi tersebut. Hal ini sesuai dengan informasi yang diperoleh dari guru biologi di sekolah tersebut, yaitu hanya 64,33% siswa kelas VIII yang tuntas (nilai siswa ³ 62) setelah diadakan ulangan harian pada pokok bahasan sistem pencernaan dan selebihnya harus remedial karena nilai yang diperoleh tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 62. Demikian halnya dengan kelas VIII1 dimana siswa yang tuntas hanya mencapai 60,4%.&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan mengembangkan model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Salah satu model pembelajaran yang relevan dan sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan serta dapat diterapkan dalam pembelajaran biologi adalah model pembelajaran kooperatif tipe think, pair and share. Pada model pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain dan memberi banyak waktu kepada siswa untuk memikirkan materi yang sedang dipelajari dan bertukar pikiran dengan siswa lain sebelum ide mereka dikemukakan di depan kelas. Menurut Lie (2005: 57),  model pembelajaran ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain daripada model klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa yang maju dan membagikan hasil diskusi di depan kelas. Interaksi antar siswa di sekitar tugas-tugas yang diberikan lebih besar karena berpasangan sebanyak dua orang, penguasaan siswa terhadap konsep-konsep yang sulit lebih tinggi dan lebih memotivasi siswa dalam belajar sehingga hasil belajar dapat meningkat.&lt;br /&gt;Hasil penelitian yang dilakukan oleh Marlina (2006: 35) yang menerapkan model pembelajaran tipe TPS dalam pembelajaran kimia pada pokok bahasan hidrokarbon menunjukkan bahwa model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan memberi waktu yang banyak bagi siswa untuk berpikir/ thinking, diskusi/ pairing, dan tukar pendapat/ sharing. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Hartina (2008: 36) dalam pembelajaran kimia pada pokok bahasan laju reaksi dan menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran TPS lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.&lt;br /&gt;Pelajaran biologi dan kimia merupakan bagian dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dimana dalam proses pembelajarannya, pelajaran biologi dan kimia ditekankan berorientasi pada keterampilan proses. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam pembelajaran kimia di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada pembelajaran biologi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan judul ²Peningkatan Motivasi, Aktivitas, dan Hasil Belajar Biologi Siswa melalui Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif  tipe Think-Pair and Share (TPS) pada Siswa Kelas VIII1 SMPN 30 Makassar ².&lt;br /&gt;Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Apakah ada peningkatan motivasi belajar biologi siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair and Share (TPS) pada siswa kelas VIII1 SMPN 30 Makassar? 2) Apakah ada peningkatan aktivitas belajar biologi siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair and Share (TPS) pada siswa kelas VIII1 SMPN 30 Makassar? 3) Apakah ada peningkatan hasil belajar biologi siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair and Share (TPS) pada siswa kelas VIII1 SMPN 30 Makassar?&lt;br /&gt;B.    Metode Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tahapan-tahapan pelaksanaan meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi secara berulang. Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas 2 kali pertemuan (4 jam pelajaran).&lt;br /&gt;Secara operasional tahap-tahap dalam kegiatan penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut. 1) Perencanaan, adapun yang dilakukan pada tahap ini adalah menelaah kurikulum SMPN 30 Makassar kelas VIII semester ganjil tahun pelajaran 2008/2009 pada mata pelajaran biologi dengan materi sistem pencernaan pada manusia, berdiskusi dengan guru mata pelajaran biologi kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang sistem pencernaan pada manusia dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS, membuat lembar observasi untuk melihat keaktifan siswa selama tindakan berlangsung, membuat angket motivasi belajar siswa, dan membuat tes hasil belajar siklus I tentang sistem pencernaan pada manusia. 2) Pelaksanaan Tindakan, meliputi memberikan motivasi kepada siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, menjelaskan secara singkat materi sistem pencernaan pada manusia, mengajukan pertanyaan (masalah) seputar sistem pencernaan pada manusia dalam bentuk pemberian LKS dan memberikan waktu kepada setiap siswa untuk memikirkan jawabannya secara mandiri (think), membagi siswa ke dalam kelompok yang terdiri dari dua orang untuk mendiskusikan jawaban mereka (pair), meminta kepada setiap pasangan berbagi dengan seluruh kelas dengan cara mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas secara bergiliran sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan (share), membuat kesimpulan dari hasil diskusi. 3) Observasi, adapun yang kegiatan dilakukan adalah mengamati kegiatan siswa melalui lembar observasi, mengadakan tes hasil belajar, dan mengedarkan angket motivasi belajar. 4) Refleksi, adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengkaji keberhasilan  maupun kegagalan pencapaian hasil penelitian siklus I. Hasil refleksi tersebut digunakan sebagai acuan untuk menentukan tindakan pada siklus berikutnya sehingga hasil yang dicapai pada siklus II dapat lebih baik dari siklus I. Hal-hal yang dilakukan pada siklus II adalah mengulangi kembali tahap-tahap pada siklus I dengan mengadakan perbaikan sesuai dengan hasil refleksi siklus I.&lt;br /&gt;Instrumen Penelitian&lt;br /&gt;Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.    Angket motivasi belajar siswa merupakan angket motivasi yang terdiri dari 30 pernyataan yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan indikator motivasi belajar yang meliputi: a) ketekunan dalam belajar, b) ulet dalam menghadapi kesulitan, c) minat dan ketajaman perhatian dalam belajar, d) prestasi dalam belajar, dan e) mandiri dalam belajar biologi.&lt;br /&gt;2.    Lembar observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung berupa pedoman observasi yang dikembangkan oleh peneliti, berisi daftar jenis kegiatan yang diamati selama proses pembelajaran dan terdiri atas 10 item, yaitu 1) siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran berlangsung, 2) melakukan aktivitas lain pada saat pembelajaran, 3) mencatat penjelasan guru/ kelompok lain pada saat pembelajaran, 4) bertanya tentang materi yang belum dimengerti, 5) kurang aktif dalam kerja kelompok, 6) tidak mengerjakan tugas, 7) memberi tanggapan terhadap jawaban kelompok lain, 8) membantu anggota kelompoknya yang mengalami kesulitan, 9) dapat menyelesaikan soal dengan benar semua, dan 10) mengerjakan soal tepat waktu.&lt;br /&gt;3.    Tes hasil belajar merupakan tes hasil belajar yang terdiri dari 30 soal. Tes hasil belajar ini dikembangkan oleh peneliti berdasarkan tujuan pembelajaran yang kemudian diuji validitas logis (validitas isi) dan validitas empirik (validitas ”ada sekarang”). Setelah melalui uji validitas, tes hasil belajar tersebut kemudian diuji reliabilitasnya dengan menggunakan rumus KR-20.&lt;br /&gt;Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) data tentang aktivitas belajar siswa diambil dengan menggunakan lembar observasi, 2) data tentang motivasi belajar siswa diambil dengan menggunakan angket motivasi siswa, 3) data mengenai hasil belajar diambil dari tes hasil belajar pada tiap siklus.&lt;br /&gt;Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;Data aktivitas belajar siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar yang diperoleh dari pelaksanaan observasi dianalisis secara kualitatif, tetapi sebelumnya dilakukan analisis secara kuantitatif dengan harapan setelah dianalisis secara kualitatif maka hasil aktivitas belajar siswa dapat diungkap. Analisis kuantitatif yang dilakukan berupa perhitungan jumlah siswa dan persentase siswa yang melakukan aktivitas sesuai dengan item aktivitas pada lembar observasi. Sedangkan data motivasi belajar dan hasil belajar siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif yang meliputi nilai tertinggi, nilai terendah, rentang, nilai rata-rata, median, modus, varians, dan standar deviasi. Selanjutnya nilai motivasi dan hasil belajar siswa dikelompokkan menurut tabel pengkategorian berikut.&lt;br /&gt;Tabel 3.1. Pengkategorian Motivasi Belajar Siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skor    Kriteria     &lt;br /&gt;81-100    Tinggi Sekali     &lt;br /&gt;61-80    Tinggi     &lt;br /&gt;41-60    Cukup     &lt;br /&gt;21-40    Rendah     &lt;br /&gt;0-20    Rendah Sekali   &lt;br /&gt;(Safari, 2005: 112)&lt;br /&gt;Tabel 3.2. Pengkategorian Hasil Belajar Biologi Siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skor    Kriteria     &lt;br /&gt;80-100    Baik Sekali     &lt;br /&gt;66-79    Baik     &lt;br /&gt;56-65    Cukup     &lt;br /&gt;40-55    Kurang     &lt;br /&gt;0-39    Kurang Sekali/ Gagal   &lt;br /&gt;(Sumber: Arikunto, 2005: 245)&lt;br /&gt;Indikator Keberhasilan&lt;br /&gt;Indikator yang menunjukkan keberhasilan penelitian ini adalah “Apabila terjadi peningkatan, motivasi, aktivitas, dan hasil belajar biologi siswa  kelas VIII1 SMPN 30 Makassar pada materi sistem pencernaan setelah dilaksanakan proses belajar mengajar melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think pair and share (TPS) atau lebih dari 65% siswa yang tuntas setelah nilai hasil belajar siswa dikategorikan menurut kriteria ketuntasan minimal yang digunakan di SMPN 30 Makassar”. Adapun kriteria nilai ketuntasan siswa dapat dilihat pada tabel berikut.&lt;br /&gt;Tabel 3.2. Kriteria nilai ketuntasan siswa Kelas VIII1 SMPN 30 Makassar pada materi sistem pencernaan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai    Kriteria     &lt;br /&gt;≥ 65    Tuntas     &lt;br /&gt;&lt;65    Tidak Tuntas   &lt;br /&gt;(Sumber: SMP Negeri 30 Makassar)&lt;br /&gt;C.    Hasil dan Pembahasan&lt;br /&gt;1.  Hasil Penelitian&lt;br /&gt;          a. Motivasi Belajar Siswa selama Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;Data motivasi belajar siswa kelas VIII1 pada siklus I dan siklus II yang diambil dengan menggunakan angket motivasi dapat dilihat pada tabel berikut ini.&lt;br /&gt;Tabel 4.1.     Deskriptif Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII1 SMPN 30 Makassar pada Siklus I dan Siklus II melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Statistik    Siklus I    Siklus II     &lt;br /&gt;Subjek    48    48     &lt;br /&gt;Rata-rata        77,21    84,18     &lt;br /&gt;Median        77,33    84,67     &lt;br /&gt;Modus        80,00    88,00     &lt;br /&gt;Standar Deviasi        6,13    5,12     &lt;br /&gt;Varians        37,61    26,21     &lt;br /&gt;Rentang        29,33    24,00     &lt;br /&gt;Nilai Terendah        62,00    72,00     &lt;br /&gt;Nilai tertinggi        91,33    96,00     &lt;br /&gt;Jumlah        3706,03    4040,69   &lt;br /&gt;Pada tabel statistik deskriptif di atas terlihat bahwa rata-rata motivasi belajar biologi siswa meningkat dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 77,21 menjadi 84,18. Median siklus I adalah 77,33 dan 84,67 pada siklus II. Modus untuk siklus I adalah 80 dan pada siklus II adalah 88. Sedangkan varians siklus I adalah 37,61 dan siklus II adalah 26,21. Nilai terendah motivasi belajar pada siklus I adalah 62 dan nilai tertingginya 91,33 dengan rentang 29,33. Sedangkan pada siklus II, nilai motivasi siswa meningkat dengan nilai terendah 72 dan nilai tertinggi 96 dengan rentang 24. Adapun distribusi nilai motivasi belajar siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar setelah dikelompokkan dalam lima kelas dapat dilihat pada tabel berikut.&lt;br /&gt;Tabel 4.2.     Distribusi Frekuensi dan Kategorisasi Nilai Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII1 SMPN 30 Makassar pada Siklus I dan Siklus II melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai    Kriteria    Frekuensi    Persentase (%)     &lt;br /&gt;       Siklus I    Siklus II    Siklus I    Siklus II     &lt;br /&gt;81-100    Tinggi Sekali    13    38    27,08    79,17     &lt;br /&gt;61-80    Tinggi    35    10    72,92    20,83     &lt;br /&gt;41-60    Cukup    0    0    0    0     &lt;br /&gt;21-40    Rendah    0    0    0    0     &lt;br /&gt;0-20    Rendah Sekali    0    0    0    0     &lt;br /&gt;   Jumlah    48    48    100    100   &lt;br /&gt;Pada tabel di atas terlihat bahwa motivasi belajar kelas VIII1 SMPN 30 Makassar pada dasarnya cukup tinggi. Pada siklus I, persentase siswa yang memperoleh kategori tinggi adalah 72,92% dan kategori tinggi sekali adalah 27,08%. Sedangkan pada siklus II, persentase siswa yang yang berada pada kategori tinggi adalah 20,83%; kategori tinggi sekali meningkat menjadi 79,17%.&lt;br /&gt;b.  Aktivitas Siswa selama Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;Data dari hasil observasi aktivitas siswa kelas VIII1 SMPN 30 Makassar pada siklus I dan siklus II yang diperoleh dengan menggunakan lembar observasi dapat dilihat pada tabel berikut ini.&lt;br /&gt;Tabel 4.3.     Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Kelas VIII1 SMPN 30 Makassar pada Siklus I dan Siklus II melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No.    Indikator yang Diamati    Siklus I    Siklus II     &lt;br /&gt;       JS    (%)    JS    (%)     &lt;br /&gt;       P. 1    P. 2    P. 1    P. 2    P. 1    P. 2    P. 1    P. 2     &lt;br /&gt;1.    Siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran berlangsung    46    48    95,83    100    48    48    100    100     &lt;br /&gt;2.    Siswa yang melakukan aktivitas lain pada saat pembelajaran    5    4    10,42    8,33    0    0    0    0     &lt;br /&gt;3.    Siswa yang mencatat penjelasan guru/ kelompok lain pada saat pembelajaran    32    32    66,67    66,67    38    38    79,17    79,17     &lt;br /&gt;4.    Siswa yang bertanya tentang materi yang belum dimengerti    5    8    10,42    16,67    8    14    16,67    29,17     &lt;br /&gt;5.    Siswa yang kurang aktif dalam kerja kelompok    10    5    20,83    10,42    0    0    0    0     &lt;br /&gt;6.    Siswa yang tidak mengerjakan tugas    4    0    8,33    0    0    0    0    0     &lt;br /&gt;7.    Siswa yang memberi tanggapan terhadap jawaban kelompok lain atau menjawab pertanyaan kelompok lain    15    18    31,25    37,50    22    24    45,83    50,00     &lt;br /&gt;8.    Siswa yang membantu anggota kelompoknya yang mengalami kesulitan    8    15    16,67    31,25    18    17    37,50    35,42     &lt;br /&gt;9.    Siswa yang dapat menyelesaikan soal dengan benar semua    20    20    41,67    41,67    30    36    62,50    75,00     &lt;br /&gt;10.    Siswa mengerjakan soal tepat waktu    25    27    52,08    56,25    33    35    68,75    72,92   &lt;br /&gt;Pada tabel hasil observasi aktivitas siswa di atas terlihat bahwa siswa yang hadir pada siklus I untuk pertemuan pertama adalah 46 siswa dengan persentase 95,83%; pertemuan kedua 48 siswa atau 100%. Sedangkan pada siklus II pada pertemuan pertama dan kedua, jumlah siswa yang hadir adalah 48 siswa atau 100%.&lt;br /&gt;Pada siklus I, siswa yang melakukan aktivitas lain pada saat pembelajaran berlangsung menurun dari 10,42% menjadi 8,33%, sedangkan pada siklus kedua menurun menjadi 0%. Siswa yang mencatat penjelasan guru/ kelompok lain pada saat pembelajaran pada siklus I adalah 66,67%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 79,17%. Siswa yang bertanya tentang materi yang belum dimengerti adalah pada siklus I meningkat dari 10,42 menjadi 16,67%, sedangkan pada siklus II meningkat dari 16,67% menjadi 29,17%. Persentase siswa yang kurang aktif dalam kerja kelompok menurun, yaitu dari 20,83% menjadi 10,42% pada siklus I dan 0%  pada siklus II. Demikian halnya dengan persentase siswa yang tidak mengerjakan tugas, yaitu menurun dari 8,33% menjadi 0% pada siklus I, sedangkan pada siklus II semua siswa telah mengerjakan tugas. Siswa yang menanggapi jawaban kelompok lain atau menjawab pertanyaan kelompok lain pada siklus I meningkat dari 31,25% menjadi 37,50% dan pada siklus II meningkat dari 45,83% menjadi 50,00%. Siswa yang membantu anggota kelompoknya yang mengalami kesulitan meningkat dari 16,67% menjadi 31,25% pada siklus I, dan kembali meningkat pada pertemuan pertama siklus II menjadi 37,50%, sedangkan pada pertemuan kedua siklus II menurun menjadi 35,42%. Persentase siswa yang dapat menjawab soal LKS dengan benar semua adalah 41,67% pada siklus I dan pada siklus II meningkat dari 62,50% menjadi 75,00%. Persentase siswa yang mengerjakan soal tepat waktu pada siklus I meningkat dari 52,08% menjadi 56,25% dan pada siklus II juga meningkat dari 68,75% menjadi 72,92%.&lt;br /&gt;c.  Hasil Belajar Siswa&lt;br /&gt;Data hasil belajar biologi siswa kelas VIII1 SMPN 30 Makassar pada siklus I dan siklus II yang diperoleh dari tes hasil belajar pada setiap akhir siklus dapat dilihat pada tabel 4.4. berikut ini.&lt;br /&gt;Tabel 4.4.     Deskriptif Skor Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII1 SMPN 30 Makassar pada Siklus I dan Siklus II melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Statistik    Siklus I    Siklus II     &lt;br /&gt;Subjek    48    48     &lt;br /&gt;Rata-rata    58,33    73,25     &lt;br /&gt;Median    58,50    73,33     &lt;br /&gt;Modus    68,00    84,00     &lt;br /&gt;Standar Deviasi    12,69    8,50     &lt;br /&gt;Varians    161,25    72,28     &lt;br /&gt;Rentang    56,00    32,00     &lt;br /&gt;Nilai Terendah    28,00    56,00     &lt;br /&gt;Nilai Tertinggi    84,00    88,00     &lt;br /&gt;Jumlah    2800,00    3516,00   &lt;br /&gt;Pada tabel 4.4 tersebut terlihat bahwa rata-rata nilai hasil belajar biologi siswa meningkat dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 58,33 menjadi 73,25. Peningkatan nilai hasil belajar siswa juga terlihat dari nilai tertinggi siswa pada siklus I adalah 84 dan nilai terendah pada siklus I adalah 28 dengan rentang 56. Sedangkan pada siklus II, nilai tertinggi yang diperoleh oleh siswa adalah 88 dan nilai terendah siswa adalah 56 dengan rentang 32.  Median yang diperoleh siswa pada siklus I adalah 58,50 dan pada siklus II adalah 73,33. Modus pada siklus I adalah 68 sedangkan pada siklus II adalah 84. Adapun distribusi nilai hasil belajar siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar setelah dikelompokkan dalam lima kelas dapat dilihat pada tabel berikut.&lt;br /&gt;Tabel 4.5.     Distribusi Frekuensi dan Kategorisasi Nilai Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar pada Siklus I dan Siklus II melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skor    Kriteria    Frekuensi    Persentase (%)     &lt;br /&gt;       Siklus I    Siklus II    Siklus I    Siklus II     &lt;br /&gt;80-100    Baik Sekali    3    17    6,25    35,42     &lt;br /&gt;66-79    Baik    13    20    27,08    41,67     &lt;br /&gt;56-65    Cukup    13    11    27,08    22,92     &lt;br /&gt;40-55    Kurang    17    0    35,42    0     &lt;br /&gt;0-39    Kurang Sekali    2    0    4,17    0     &lt;br /&gt;   Jumlah    48    48    100    100   &lt;br /&gt;Pada tabel di atas terlihat bahwa pada siklus I, persentase siswa yang memperoleh nilai kurang sekali adalah 4,17%, kurang 35,42%, cukup 27,08%, baik 27,08%, dan baik sekali 6,25%. Sedangkan pada siklus II sudah tidak ditemukan adanya siswa yang memiliki nilai kurang dan kurang sekali. Persentase jumlah siswa yang memperoleh nilai cukup adalah 22,92%, baik 41,67%, dan baik sekali 35,42%. Apabila distribusi nilai hasil belajar siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar dikelompokkan dalam kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang digunakan di SMP Negeri 30 Makassar dapat dilihat pada tabel berikut ini.&lt;br /&gt;Tabel 4.6.     Distribusi Frekuensi dan Kategorisasi Ketuntasan Belajar Siswa Kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar pada Siklus I dan Siklus II melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai    Kriteria    Frekuensi    Persentase (%)     &lt;br /&gt;       Siklus I    Siklus II    Siklus I    Siklus II     &lt;br /&gt;≥ 65    Tuntas    16    37    33,33    77,08     &lt;br /&gt;&lt;65    Tidak Tuntas    32    11    66,67    22,92     &lt;br /&gt;Jumlah    48    48    100    100   &lt;br /&gt;Pada tabel distribusi frekuensi dan kategorisasi ketuntasan belajar siswa di atas terlihat bahwa pada siklus I siswa yang tuntas adalah 33,33% dan pada siklus II 77,08%.&lt;br /&gt;d.  Refleksi&lt;br /&gt;Pada siklus I diperoleh beberapa hal yang menjadi bahan refleksi untuk dapat melanjutkan penelitian ke siklus II, yaitu 1) proses pembentukan kelompok yang membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga waktu siswa untuk berdiskusi bersama anggota kelompoknya berkurang, b) masih kurangnya siswa yang bertanya atau memberikan tanggapan. Selain itu, beberapa siswa tidak berani mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, 3) kurangnya kerjasama dengan sesama anggota kelompok, 4) suasana diskusi didominasi oleh siswa yang pandai, 5) masih ada beberapa siswa yang mengerjakan aktivitas lain selama pembelajaran.&lt;br /&gt;Menyikapi berbagai masalah yang terjadi selama siklus I, maka perbaikan yang dilaksanakan pada siklus II lebih ditekankan pada pengelolaan kelas agar proses diskusi berjalan lancar dan siswa yang aktif selama proses pembelajaran lebih meningkat. Adapun tindakan yang dilakukan pada siklus II adalah 1) menjelaskan kembali tentang langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe think pair and share dan lebih membimbing/ mengarahkan siswa pada saat pembentukan kelompok, 2) mendorong siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan diskusi dan menekankan pentingnya kerjasama yang baik dari masing-masing anggota kelompok dengan menghargai setiap perbedaan pada diri anggota kelompoknya dan tanggung jawab setiap anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama, 3) meningkatkan keberanian siswa untuk bertanya, menjawab atau menanggapi hasil diskusi kelompok lain dengan cara menyampaikan kepada siswa bahwa siswa bebas menyampaikan pendapatnya yang berhubungan dengan masalah yang sedang didiskusikan, di depan teman-temannya tanpa perlu merasa takut ataupun malu. Selain itu, juga disampaikan bahwa hal yang terpenting dalam kegiatan diskusi ini adalah siswa berani menyampaikan pendapatnya di depan umum serta menghargai pendapat orang lain dan tujuan dari diskusi adalah mencari pemecahan terhadap masalah yang sedang didiskusikan secara bersama-sama, 4) memberikan peluang yang sama pada setiap siswa untuk mengeluarkan pendapat dengan cara menarik undian untuk menentukan kelompok/ pasangan yang bertugas melaporkan hasil diskusinya. Sementara itu, kelompok lain atau pasangan lain boleh bertanya atau menanggapi jawaban hasil diskusi kelompok lain, 5) menyampaikan nilai tes hasil belajar siklus I pada kegiatan awal pertemuan pertama siklus II dengan harapan, hasil tersebut menjadi motivasi bagi siswa untuk lebih giat belajar dan lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, dan 6) mengubah susunan anggota kelompok.&lt;br /&gt;Pada siklus II, guru masih menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS selama proses pembelajaran dengan mengacu pada hasil refleksi pada siklus I. Pada siklus II ini terlihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dari siklus I, yaitu meningkatnya kerjasama anggota kelompok, meningkatnya aktivitas bertanya, memberi tanggapan terhadap jawaban kelompok lain/ menjawab pertanyaan kelompok lain, dan berkurangnya aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan pelajaran biologi. Selain itu, pada motivasi dan hasil belajar siswa juga menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Menyikapi hasil refleksi siklus II dan setelah mengamati berbagai kekurangan dan kemajuan siswa selama siklus II terlihat bahwa sebahagian besar hambatan yang ditemukan pada siklus II dapat teratasi, meskipun masih terjadi pada siklus II. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think, pair and share memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar. Selain itu, data hasil penelitian pada siklus II menunjukkan bahwa indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini telah tercapai, yaitu 1) terjadi peningkatan rata-rata nilai motivasi belajar siswa dari 77,21 pada siklus I menjadi 84,18 pada siklus II atau rata-rata motivasi belajar siswa meningkat dari kategori tinggi menjadi tinggi sekali, 2) terjadi peningkatan aktivitas belajar biologi siswa dari siklus I ke siklus II yang ditandai dengan meningkatnya persentase siswa yang bertanya, menjawab, ataupun menanggapi jawaban kelompok lain selama pelaksanaan tindakan dan berkurangnya aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan pembelajaran biologi, dan 3) terjadi peningkatan hasil belajar biologi siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar dari siklus I ke siklus II dan persentase siswa yang tuntas pada tes hasil belajar siklus II telah melebihi 65% atau siswa yang tuntas pada siklus II sebanyak 77,08%. Dengan tercapainya indikator keberhasilan penelitian, maka penelitian tindakan kelas ini dapat diakhiri dengan 2 siklus (penelitian tidak dilanjutkan ke siklus III).&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;Hasil penelitian motivasi belajar siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Peningkatan motivasi belajar siswa tersebut ditandai dengan meningkatnya rata-rata nilai motivasi siswa dari siklus I ke siklus II sebagaimana yang ditunjukkan oleh tabel 4.1, yaitu rata-rata nilai motivasi siswa pada siklus I adalah 77,21 pada siklus II meningkat menjadi 84,18 atau dari kategori baik menjadi baik sekali. Menurut Riduwan dan Sunarto (2007: 52), nilai rerata dari kelompok data, diperkirakan dapat mewakili seluruh nilai data yang ada dalam kelompok tersebut. Peningkatan motivasi belajar siswa juga dapat dilihat pada tabel 4.2 yang menggambarkan bahwa persentase skor motivasi siswa yang berada pada kategori sangat tinggi meningkat dari siklus I ke siklus II yaitu dari 27,08% menjadi 79,17% dan pada kategori baik menurun dari 60,42% menjadi 14,58% serta tidak ditemukannya siswa yang memiliki nilai motivasi kategori cukup pada siklus II. Adanya peningkatan motivasi belajar siswa kelas VIII1 SMP Negeri 30 Makassar disebabkan karena pada siklus II, peran aktif siswa lebih ditingkatkan dengan cara mendorong siswa untuk aktif bertanya serta memberi kesempatan yang sama bagi setiap siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan diskusi.  Selain itu, pengajar terlebih dahulu menginformasikan kepada siswa tentang hasil ujian mereka kemudian memperjelas tujuan dan manfaat pengetahuan diperoleh siswa selama pembelajaran serta menghubungkan topik yang akan diajarkan dengan topik yang telah dibahas sebelumnya. Menurut Uno (2007: 34), ada beberapa teknik motivasi yang dapat dilakukan dalam pembelajaran, diantaranya adalah (1) menimbulkan rasa ingin tahu, (2) menggunakan materi yang dikenal siswa sebagai contoh dalam belajar, (3) menuntut siswa untuk menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya, (4) memperjelas tujuan belajar yang ingin dicapai, (5) memberitahukan hasil kerja yang telah dicapai, (6) membuat suasana persaingan yang sehat di antara para siswa, dan (7) memberi kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum. Sedangkan menurut Frandsen (dalam Sardiman, 2007), dorongan belajar bagi siswa yang dapat dilakukan oleh seorang guru dengan memberikan motivasi untuk memperbaiki kegagalan dan menginformasikan kepada siswa mengapa materi tersebut perlu dipelajari. Siswa yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh hasil yang baik.&lt;br /&gt;Pada tabel 3.4 terlihat bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat mengaktifkan siswa untuk belajar. Hal tersebut ditandai dengan menurunnya jumlah siswa yang kurang aktif dalam kerja kelompok, siswa yang melakukan aktivitas lain di luar pembelajaran, dan siswa yang tidak mengerjakan tugas dari siklus I ke siklus II. Adanya beberapa siswa yang tidak mengerjakan tugas tersebut disebabkan karena siswa tersebut masih suka menunda-nunda untuk mengumpulkan tugasnya. Sedangkan adanya siswa yang kurang aktif dalam kegiatan diskusi pada siklus I disebabkan karena siswa pada umumnya masih terpengaruh oleh model pembelajaran yang menerapkan sistem kompetisi, yaitu sistem pembelajaran yang menanamkan sikap bersaing antar siswa untuk memperoleh nilai yang lebih baik dari temannya sehingga siswa cenderung menganggap siswa lain sebagai musuh. Hal ini terlihat dari sikap beberapa siswa yang cenderung mengerjakan tugas tanpa berdiskusi. Sedangkan pada siklus II, siswa sudah memahami model pembelajaran yang diterapkan dan dalam diri anggota kelompok telah tertanam rasa saling menghargai satu sama lain serta berkeyakinan bahwa mereka adalah satu tim yang harus saling bekerja sama untuk meraih hasil yang lebih baik secara bersama-sama. Menurut Sanjaya (2007: 246), siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain. Siswa perlu dibantu mengatasi berbagai hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok. Selain itu, sistem pengelompokan pada model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah kelompok kecil dimana setiap kelompok hanya beranggotakan 2 orang. Dengan demikian, interaksi antar siswa seputar tugas yang diberikan menjadi lebih besar sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan diskusi kelompoknya.&lt;br /&gt;Kerjasama antar siswa juga terlihat pada aktivitas membantu anggota kelompoknya yang mengalami kesulitan. Siswa yang membantu anggota kelompoknya yang mengalami kesulitan meningkat dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 8 siswa atau 16,67% pada pertemuan pertama dan 15 siswa atau 31,25% pada pertemuan kedua siklus I menjadi 18 siswa atau 37,50% pada pertemuan pertama siklus II, sedangkan pada pertemuan kedua siklus II menurun menjadi 17 siswa atau 35,42%. Menurut Yusuf (2007: 8), dalam pembelajaran kelompok setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman kelompoknya belum menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu, siswa harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk menyelesaikan tugas kelompok. Penurunan persentase siswa yang membantu anggota kelompoknya yang mengalami kesulitan menunjukkan bahwa secara perlahan, siswa akhirnya mampu mengerjakan LKS tanpa bantuan dari temannya. Slavin (dalam Yusuf, 2007: 6) mengemukakan bahwa pengajaran dapat dilakukan dengan memberikan siswa sejumlah bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran kemudian mengurangi bantuan tersebut dan selanjutnya memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya. Aktivitas ini memberikan kontribusi positif terhadap siswa sehingga jumlah siswa yang dapat mengerjakan soal tepat waktu dan siswa yang dapat menyelesaikan soal dengan benar semua dapat meningkat. Jumlah siswa yang dapat mengerjakan soal tepat waktu juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II, yaitu 52,08% pada pertemuan pertama dan 56,25% pada pertemuan kedua siklus I menjadi 68,75% pada pertemuan pertama dan 72,92% pada pertemuan kedua siklus II. Sedangkan siswa yang dapat menyelesaikan soal dengan benar semua meningkat dari 41,67% pada siklus I menjadi 62,50% pada pertemuan pertama siklus II dan menjadi 75% pada pertemuan kedua siklus II. Siswa yang bertanya tentang materi belum dimengerti meningkat dari 10,42% menjadi 16,67% pada siklus I dan dari 16,67% ke 29,17% pada siklus II. Sedangkan jumlah siswa yang memberi tanggapan ataupun menjawab pertanyaan kelompok lain meningkat, yaitu dari 31,25% pada pertemuan pertama siklus I menjadi 37,50% pada pertemuan kedua siklus II dan 45,83% pada pertemuan pertama siklus II menjadi 50% pada pertemuan kedua siklus II. Untuk meningkatkan aktivitas bertanya siswa serta menghindari adanya dominasi siswa yang pintar dalam kegiatan diskusi dilakukan dengan mendorong keberanian siswa untuk mengeluarkan pendapatnya dan memberikan kesempatan yang sama pada setiap siswa untuk mengeluarkan pendapatnya pada saat nomor undiannya ditarik. Selain itu, pada kegiatan pendahuluan pada setiap pertemuan diawali dengan mengaitkan topik pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa untuk menarik minat dan perhatian siswa sehingga siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar. Peningkatan perhatian dan minat siswa juga terlihat oleh aktivitas mencatat penjelasan guru/ kelompok lain yang meningkat dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 66,67% menjadi 79,17%.&lt;br /&gt;Terjadinya peningkatan persentase aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II menunjukkan bahwa sebahagian besar siswa memiliki perhatian yang besar dalam belajar biologi, khususnya dalam pembelajaran biologi yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Peningkatan jumlah siswa yang bertanya dan memberi tanggapan serta menjawab pertanyaan kelompok lain menunjukkan keinginan siswa untuk lebih memahami materi pelajaran dan memecahkan permasalahan yang mereka hadapi serta menunjukkan keberanian mereka untuk bertanya yang patut untuk dihargai. Peningkatan aktivitas bertanya, menjawab, dan menanggapi pertanyaan kelompok lain serta penurunan aktivitas negatif, seperti melakukan aktivitas lain pada saat pembelajaran, siswa yang tidak aktif dalam kerja kelompok, dan siswa yang tidak mengerjakan tugas menunjukkan antusias siswa dalam proses pembelajaran biologi dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Menurut Nurhadi (dalam Hartina, 2008: 11), model pembelajaran ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Selain itu, kerjasama antar siswa pada saat diskusi, sudah terjalin dengan erat. Hal ini disebabkan karena siswa sudah mulai memahami kemampuan teman kelompoknya masing-masing sehingga siswa dapat saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok.&lt;br /&gt;Peningkatan motivasi dan aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II memberikan kontribusi positif pada peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Peningkatan hasil belajar biologi tersebut terlihat pada nilai rata-rata siswa pada siklus I dan siklus II, yaitu dari 58,33 menjadi 73,25. Apabila nilai rata-rata antara siklus I dan siklus II dikategorikan ke dalam lima kelas, maka terlihat bahwa terjadi peningkatan kategori nilai rata-rata siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu dari kategori cukup menjadi baik.&lt;br /&gt;Peningkatan hasil belajar siswa juga dapat ditunjukkan oleh tabel 4.5 yang menggambarkan distribusi nilai siswa setelah dikategori dalam lima kelas, yaitu baik sekali, baik, cukup, kurang, dan kurang sekali dimana sudah tidak ditemukan lagi adanya siswa yang memiliki nilai pada kategori kurang dan kurang sekali pada siklus II. Selain itu, persentase ketuntasan siswa pada siklus II juga ikut meningkat, yaitu dari 16 siswa atau 33,33% yang tuntas pada siklus I menjadi 37 siswa atau 77,08% pada siklus II berdasarkan KKM yang digunakan di SMP Negeri 30 Makassar. Rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa pada siklus I disebabkan karena pada siklus I ini, siswa masih belum dapat beradaptasi dengan suasana kelas dan model pembelajaran yang digunakan. Siswa pada umumnya masih terpengaruh dengan model pembelajaran yang lebih berpusat kepada guru dan keaktifan siswa lebih didominasi oleh siswa yang pintar saja. Selain itu, siswa juga selalu mengharapkan remedial untuk perbaikan nilai sehingga siswa tidak sungguh-sungguh dalam mengerjakan soal pada saat pelaksanaan tes hasil belajar. Sedangkan pada siklus II, siswa sudah mampu beradaptasi dengan model pembelajaran yang digunakan. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS memberi banyak waktu kepada siswa untuk berpikir dan berinteraksi dengan pasangannya serta pemahaman siswa terhadap materi lebih meningkat sehingga hasil belajar siswa pun ikut meningkat.&lt;br /&gt;Berdasarkan data hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dalam pembelajaran biologi di sekolah dapat memberikan kontribusi positif terhadap motivasi, aktivitas, dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII1 SMPN 30 Makassar. Hal ini didukung dengan pendapat yang dikemukakan oleh Lie (2005: 57),  model pembelajaran ini memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berinteraksi antar siswa di sekitar tugas-tugas yang diberikan lebih besar karena berpasangan sebanyak dua orang, penguasaan siswa terhadap konsep-konsep yang sulit lebih tinggi dan lebih memotivasi siswa dalam belajar sehingga hasil belajar dapat meningkat.&lt;br /&gt;Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dalam pelajaran biologi tidak hanya meningkatkan hasil belajar siswa tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial siswa selama proses pembelajaran. Hal ini didukung oleh pendapat Ibrahim (2000) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial. Sedangkan menurut Slavin (dalam Yusuf 2007: 11), model pembelajaran ini digunakan untuk menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Oleh karena itu, siswa dituntut untuk bekerja sama dengan anggota kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama.&lt;br /&gt;Keaktifan siswa selama proses pembelajaran merupakan cerminan dari keberhasilan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, keaktifan siswa selama proses pembelajaran sangat diperlukan. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menumbuhkan keberanian siswa untuk mengeluarkan pendapat sehingga siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran dan lebih memotivasi siswa untuk belajar. Semakin besar motivasi dan keinginan siswa untuk berhasil dalam belajar maka semakin besar pula usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa menjadi lebih memahami materi pelajaran dan berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;Peneliti menyadari bahwa untuk meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar biologi siswa bukanlah hal mudah dan membutuhkan kerja keras guru dalam pengelolaan kelas, apalagi dengan kemampuan siswa yang masih terbatas, baik dalam hal pengetahuan biologi maupun dalam hal perkembangan cara berpikir siswa. Namun, membelajarkan siswa untuk berani mengungkapkan ide, pemikiran, dan kreatifitasnya, serta menumbuhkan motivasi belajar belajar biologi siswa adalah yang paling penting.&lt;br /&gt;D.    Kesimpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa: 1) penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think, pair, and share dapat meningkatkan motivasi belajar biologi siswa kelas VIII1 SMPN 30 Makassar, yaitu dari rata-rata motivasi pada siklus I adalah 77,21 pada kategori baik menjadi 84,18 pada kategori sangat baik pada siklus II, 2) penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think, pair, and share dapat meningkatkan aktivitas belajar biologi siswa kelas VIII1 SMPN 30 Makassar yang ditandai dengan berkurangnya aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan pembelajaran biologi dan meningkatnya keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab dan menanggapi hasil diskusi kelompok lain, 3) penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think, pair, and share dapat meningkatkan hasil belajar belajar biologi siswa kelas VIII1 SMPN 30 Makassar, yaitu dari rata-rata nilai tes hasil belajar siswa pada siklus I 58,33 pada kategori cukup di siklus I menjadi 73,25 pada kategori baik pada siklus II.&lt;br /&gt;E.    Saran&lt;br /&gt;Adapun saran yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil penelitian ini adalah: 1) sebaiknya guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe think, pair, and share dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah agar siswa dapat lebih mudah mengerti serta untuk meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa, 2) bagi guru dan peneliti selanjutnya yang menggunakan model pembelajaran ini diharapkan dapat lebih mengembangkan model pembelajaran ini dengan menggunakan berbagai metode dan media yang relevan serta lebih mengorientasikan siswa pada masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.&lt;br /&gt;F.    Ucapan Terima Kasih&lt;br /&gt;Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang dengan ikhlas memberikan bantuan, motivasi, dan doa. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang setulusnya dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Ibu Prof. Dr. Nurhayati B, M.Pd selaku pembimbing I dan Ibu Andi Faridah Arsal, S.Si, M.Si selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam memberikan bimbingan dan kesempatan yang sangat berharga kepada penulis.  Kepada Bapak Munir, S.Ag, M.Ag selaku Kepala SMP Negeri 30 Makassar dan Ibu Sehalyana, S.Pd selaku guru biologi kelas VIII SMP Negeri 30 Makassar atas bimbingan dan sarannya pada saat penelitian. Teristimewa penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ayahanda Drs. A. Haris Massiara, M. Pd dan ibunda Hj. Nurhayati MS. yang telah membesarkan, mendidik, dan mengorbankan segalanya demi kepentingan penulis dalam menuntut ilmu, serta memberikan dukungan, nasehat, dan doa restu sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini.&lt;br /&gt;Kesempurnaan hanyalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penulis menyadari bahwa apa yang penulis sajikan dalam artikel ini sesungguhnya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun sehingga penulis dapat berkarya lebih baik lagi di masa mendatang. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi semua yang membutuhkannya. Amin Yaa Rabbal Alamin.           &lt;br /&gt;G.    Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Arikunto, S. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartina. 2008. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 5 Makassar (Studi pada Materi Pokok Laju Reaksi). Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA UNM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim, M, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lie, Anita. 2005. Cooperative Learning:“Mempraktekkan Cooperative Learning di dalam Ruang-Ruang Kelas”. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marlina. 2006. Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Struktural Tipe Think Pair Share (TPS) pada Kelas X SMA Negeri 11 Makassar. Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA UNM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riduwan dan Sunarto. 2007. Pengantar Statistika. Bandung: Alfabeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Safari. 2005. Penulisan Butir Soal Berdasarkan Penilaian Berbasis Kompetensi. Jakarta: APSI Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanjaya. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sardiman, A. M. 2007. Ínteraksi &amp;amp; Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.&lt;br /&gt;Uno, Hamzah B. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya “Analisis di Bidang Pendidikan”. Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf. 2007. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (Online). http//:www.damandiri.or.id/file/yusufunsbab2.pdf.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8116366193904730371-1629544006143457692?l=epta86.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://epta86.blogspot.com/feeds/1629544006143457692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8116366193904730371&amp;postID=1629544006143457692&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/1629544006143457692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8116366193904730371/posts/default/1629544006143457692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://epta86.blogspot.com/2009/07/think-pair-and-share.html' title='Think Pair and Share'/><author><name>duniaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14316567180501072898</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_4yOU3bSXoQ4/SnGD1jHT--I/AAAAAAAAAAw/hCXEE8T6k24/S220/428066087_c040af4b77_o%5B1%5D.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
